Posts

Showing posts from October, 2016

Jalan Asia Afrika

di bangku jalan Asia Afrika Suatu sore...... Langit terlukis indah...... Menyandarkan segumpal lelah... ** Ingat tentang perjalanan Tentang perjuangan... Banyak   keberkahan.... Keangkuhan,.... kealfaan Menghitung kesalahan... ** Satu persatu meramu di dada, Kembali berdiri berjuta langkah Terlalui... Tergurat segenap asa dan dosa. Saat mata tertumpu... Pada menara mesjid Raya ** Sore di jalan Asia Afrika Memandang mesjid Raya Kuatkanlah asa, hapuskan dosa Oh yang Kuasa, pemilik semesta Ampuni segala dosa, Jabbah segala doa ** Mei16.  

"Antara Rasa Kau dan Aku*

Adakah yang lebih indah kekasih Selain pelangi wajahmu, saat hujan terhenti Dari derai airmata yang lama ku tunggu Airmata bermanik rindu.... Dari sisa waktu, Antara kau dan aku... ** Adakah senandung lain adinda, Yang gema di kerudungmu, Lubuk jiwa yang di alirkan nada, Syair terlahir dari tulus cinta, Melodikan jerat duka menjadi canda Antara rasa kau dan aku... *** Bandung, 16 Agustus 2016

AKASIA

Daun itu berguguran melambai bersama renyai, dan Keangkuhan hujan merengutnya dari asuhan ranting, Terlepas, pohon menatap pilu , hilang satu persatu ... Ketika   denyut nadinya menghela nafas ....... Dera   berguguran akasia tak berkata apa-apa, Ia kulum semua kenang daun yang malang.... ** Ia cengkream geram akar tertanam, membenam Membalas dendam ... membalut alur-alur langkah Tiap pejalan dan kelana bersandar ..... Menggamit serangga ketubuhnya, Menuai angin menggerai hujan ** Dan, sekelebat tabir membaca takdir, Akasia lahir mengkuti alir.. Daun yang hilang dipinang yang datang, menuai angin menahan badai ....... akasia lirih ber “tasbih”, hidup untuk memilih ??? “ KiaraCondong

"Akan Ada Waktunya"

Tiada terik ini Menghujam dada, memanggang jerami petani Meraup debu perjalan Penghiba,.. Belati membelah langit, menukik Tercampak basa-basi. Menancap rapuh ranting Gemercing bertandang angin Meliuk dalam nadi para peminta. Kau cembung bungkam, tatap Dari atap tetes kesombongan, Biarkan dercit murai pagi menuju mati, nurani harus di beli... Ranum senyum dalam rayuan. Bila bunga di gugurkan... ** Lintang halang pahatkan rambu, Jauhkan jalan biar lelahnya memuas hasrat. Tambatkan perahu jika melaju, Tetes luka di balik tawa, sedewa mu memuja diatas nasib kelaparan. ** Tutup saja   pintu, bila ilalang tak lengang. kepompong menjelma kupu... ada semilir di langit harap para pengharap... Penghiba akan terus mendekap penguasa semesta... Siapa yang menggadai andai, menggenggam badai... Tiba waktu tiada satu pintu pun, Untukmu sempat melamun.... ***