Posts

Showing posts from 2020

Bulan Ranum

Rizal De Loesie   Malam ini, aku jatuh cinta pada rembulan bulat sempurna Dilingkari garis tipis awan melingkup kesetiaan Langit maha luas, cakrawala yang ku pandang Adalah harapan terhampar Walau kutahu, aku dalam sekat keterbatasan penat penantian   Bulan ranum, kubayangkan senyumam bidadari kemilau cahaya Sayap malam menyapa nurani, agungnya semesta diciptakan tuhan Begitu kerdil diri yang hanya menyiasati hati, Mengobati bilur luka, rindu dan asa yang terdera Sedangkan bulan hanya tersenyum manja   Diriku,bukan apa-apa, tetapi kau tak berarti bisa Menganggap serpihan asa yang menjadikanmu semu Aku adalah sari alam yang kukemas dengan ketuhananku dan semesta adalah ladang jiwaku untuk berdamai Dengan sayap bidadari dan sinar cahaya keikhlasan   Tak akan habis dalam imanku Tak hapus dari harapanku Tak satu pun kasidah dan kata membuatku luruh Dihamparan sajjadah adalah rumah bagi jiwa Yang terpungut lara   2020

Bercumbu dengan Angin

Rizal De Loesie   Ingin kupeluk hangat tubuhmu Yang menghembus di sela jantung dengan serajut nada cinta dan rindu yang membiru. Melepaskan kasih atas nama keindahan rida tuhan. Memberi reda dalam gejolak jiwa yang bisa menjadi petualang, karena kerinduan seharusnya dalam pelukan. Biar mata  hanya tahu warna dan manis ikhlasmu. Kuraih tubuhmu sepenuh cinta, sepenuh jiwa melepaskan segala kelana hanya bermuara padamu. Jangan kau menolak, yang membilurkan luka batin berjejak. Jangan kau lari dari rasa ingin, karena kedinginan melahirkan banyak syair yang melepaskan jeruji-jeruji hati yang luka. Dan aku akan terjerat pada selembar malam yang begitu kelam, yang menjadi catatan kisah yang tak dapat lagi  menjadi catatan kisah yang tak dapat lagi menjadi syah. Maka kepadamu angin, bukankah engkau sudah kulamar berabad lalu sebagai bagian dari tubuhku agar sempurna. Tetapi bagimu yang tak memiliki sekat, aku hanyalah dinding yang bisa kau sisihkan dari pandangan. Hingga lenganku...

Air Mata Penyair

Sebait sajak melayang bagai anak panah menikam penyair. Hulu kata menjelma anak sungai dari rahim jiwa yang disembunyikan diksi, majas dan rima. Dalam hutan rimba bersendirian menyusun cuaca hati, sedang musim adalah pasti tak pernah dimengerti. Sunyi adalah rumah bagi sepi, syair menghilir mengikuti irama takdir dari kering hati diramu bumbu ketabahan. Begitu angin dan malam menyalami gulita relung, yang ia simpan rapi. Menyelami tiap lekuk kata itu adalah airmata yang dikremasi dengan balutan ampas kopi. Membubungkan asap keletihan, membakar ngilu rasa yang paling hakiki. Seorang penyair telah menyandarkan keteguhannya dalam kata yang diam-diam menikamnya. Karena kesunyian itu hening. Hening menciptakan halaman puisi yang tak harus engkau pahami. Pada bait tersusun sari jiwa yang tersisa untuk hadir di beranda hatimu. Engkau terhanyut dan penyair tenggelam   2020

Memilah Angan

Rizal DeLoesie   Risak riuhya jiwaku Menikam hati yang ku pualamkan sebening matamu Diikat tembang sahdu angin malam Dari sela jeruji bayangan menyaru rindu Mengumpal dalam beku sungai air mata Pandangan mata hati Mengayuh sampan ke ujung Hampa   Lautan ombak, aku bermandi badai Tiada basah, hanya kepak sayap lembab Tersangga rasa yang tak sampai Di akar bakau tersangkut serajut kata Butiran pasir menjelma kaca Garis pantai menjulur lidah api Aku merupa debu di atas karang Memilah angan   Bandung 2020
Image
Cinta mengajarkanmu tahu Memiliki dan mengeja rindu   Sedangkan keperihannya Mengajarkanmu berlogika

Ribuan Puisi Menjelma Bintang

Image
Rizal De Loesie   Suatu masa nanti, Waktu bisa kuremas pelan-pelan Sembunyi di balik cahaya pendarmu y ang samar Jika lilin ini tidak padam di genggaman Pada suluh jiwa. Kudekap be ribu puisi Pada warna pelangi,   Engkau akan tidur dalam cahaya semu Dalam balutan cahaya samarmu Aku telah menjelma matahari   Suatu masa nanti, Derai daunan risau m e njadi hijau Beribu puisiku menjelma bintang Menghapus bimbang.      

Ranting Tak Patah

Image
Sepasang burung  hinggap Pahon merupa ranting, dedauan mengi n jak sepuh di sapu angin  dari bilik peraduan cicit yang berjauhan   hanya suara gaduh dalam jiwa. Terlunta beribu puisi kata  tak bersahut suku saling menikam. Punggung waktu bersisian kembali sunyi. Pohon yang letih merayu angin ranting tak patah kepelukan

Lengan Enggan

Image
Rizal De Loesie   Lengan hujan sembunyi Enggan  tiris   di tanah rekah Walau degup nyala membakar ulu nadiku Mencecap banyak harap Darah mencincang semua mimpi Lukisan ratapku pada cangkir atma Derai sekejap untuk kecambah menunggu Jika,masih tersisa tirisan  cinta   Aku qatam memilah warnamu Liuk tubuh yang tak hafal irama Hanya sepasang lengan enggan merangkul Bila nanti kecambah terinjak waktu Datangmu tak lagi kuharap Hanyutlah segala ayunan dibuai rayu Merupa tanah – Jejak   sabar  tumbuh

Sajak Kemarau

Image
Rizal De Loesie   hujan menggenang ingatan Perawan merindukan pelukan. Sedang jemariku menyisih tali kemarau Tak habis bayangan disapu langit, Hanya kutemui selembar perih Di putik hujan

DEJA VU

Image
Rizal De Loesie Penyair itu manusia hina. Banyak dosanya Salah omongya, juga banyak gayanya Menyusun kata, menyandar di patung Singa Atau lagi memetik bunga di Taman Mahkota Sedang dia, menghirup cangkir kopi Yang tinggal candu bersama kabut pesta dungu Sebait syair melukiskan bulan tumbuh di Paris Mungkin Paris Van Java lukisan monalisa inspirasi dengan pendar cahaya dari smartphone retak layarnya suatu kali, puisi di titimangsa Melaka, dalam redup cahaya gereja, sejarah panjang Portugis. Dan gadis-gadis Tionghoa merupa helai-helai kisah pasar malam pujanga deja vu dalam kejemuan semu karena mencari dunianya, yang fana mungkinkah nyata begitu sakit? Atau rasa sakit diukir di tugu selamat datang Selamat datang penderitaan Selamat pergi kata-kata Pujangga, deja vu 2020

Teras Masjid Salman-ITB

Image
Rizal D e Loesie Kulewati teras masjid ini, Berjuta kata tercium bagai pujangga menemukan pena Tiap jengkal lumut mengisahkan, di sini pujanga lahir kata berjodoh memadu kasih di taman Ganesha Diksi-diksi nan manja bergayut di akar-akar Di bangku-bangku. Selintas senyuman itu Racun puisiku. Perempuan bergamis Kata-kata jatuh berderai, sulit dikemasi Ke akar-akar pohon dan selokan Bait menjadi basi. Tak pernah sampai 2020

Tanjakan Emen

Image
Rizal De Loesie Jka kenangan tumbuh di pucuk teh Kuseduh air mata di tanjakan emen ini Lelah merubah arah matahari, tajam di dadaku Setinggi tanjangan di ulu hati memeram luka lama urat nadi Kini napas satu-satu Mengeja serpih awan, mengeja jarak Terlamun jauh dan tajam tikungannya Seperti menyisih badai, engkau matahari Yang padam di dada, dan serabut bulan rekah Patah di dermaga. Hanya desau tersisa Biar kueja napas mu dalam diriku Yang tak sampai-sampai 2020

Arah Angin

Image
Rizal De Loesie Angin memilin jua setelah tanjakan diiringi sayap merpati. Berterbangan menggamit senja yang masih berkemas, matahari perkasa dalam usia tak perjaka lagi. Rimbun pohonan dengan buah padat mengkal menyandar di dadaku yang getar. Bukan karena senja belum datang, tetapi angin memutar darahku. Hanyut tali jiwa terlilit garis bibirmu. Tetapi kau tahu, memaknai senja hanya sejenak. Maka biarkan kelepak merpati beriuh riuh dalam pagutan angin yang sahdu. Sebelum senja benar berlabuh dan merinai di matamu. Namun kita tahu cara merubah arah angin. Walau di dadaku mungkin di dadamu rindu tak terkisau angin.

Karedok

Image
Rizal De Loesie Bersatulah di cobek ini Nasib digantung pohon toge, timun, kol dan kemangi Kacang yang tak mau berubah nama Lumarlah bersama bumbu leluhur dan Gemerincing ayunan lengan Menyatukan nasib, dan mewakafkan rela Katamu, itu karedok jajahi sudut negerimu Tak bisa disusuri muasalnya 2020

Leunca

Rizal De Loesie Maka itu, makanlah Jemarimu membayang urat nasib Bagai akar sepanjang tebing “Keraton” Angin  meniup bara lepuh kulitmu Dari pucuk matahari Kusajikan ikan peda  dan lalap leunca Engkau terbiasa menguleg hidup Sekering cengek . Dan selepasnya lukislah awan dalam linangan airmata Engkau tahu, hidup sama perihnya 2020, Bandung
Image
Tangkuban Perahu Rizal De Loesie Langit putih tenunan dayang Sumbi sehampar cahaya mencium punggung gunung Aroma belerang menguak mimpi Sangkuriang Legenda alam, tercecah kisah di urat bambu Pembenaran dan hikayat melahirkan rasa Rasa cinta. Katamu, sebesar telengkup gunung kita jejaki. Akar-akar melilit nasib terpahat lembah Fosil berjuta tahun diasah jejak sampai ke jari Sepanjang itu keyakinan tumbuh sumpah tak pernah sembarangan Janji merupa pekat debu mengeras menjadi batu Sekecil apa butiran debu Tangkuban Perahu Maka hiduplah dalam keteguhan Kawah nyala keyakinan semesta Di sini, kita nikmati sunyi irama angin Mencari kata hatimu. Dan aku Dalam perhelatan cuaca dan musim “Tangkuban Perahu perawan semesta, Alam mengajar sejarah, sejarah mengarah langkah Keteguhan harus hakiki, dan cinta harus abadi” Gunung Tangkuban Perahu tak pernah sepi Setelah seteguk kopi ini kau akan kembali ? Dalam derai dan senyuman Dayang Sum...

Sebilah Senja

Image
Rizal De Loesie   Ku raut sebilah senja menjadi candu Membentuk jemari malam dengan sebait astu Mengaduk jiwa dalam remang cahaya    Mengasut tiap kelopak kembang Sepanjang rentang Menguar aroma se cangkir kopi Jalin suara angin. Tindih sepi mengecup awan Berlarutlah rinai, berguratlah badai Menari dalam ceruk jiwaku

Rindu

Untuk menanam harus membenih Tak ada rindu sebelum mencinta   jendela tumbuh almanak dan detak jam Debu memupuk, menua jarak melati atau mawar, tiada peduli Jauh di batas taman beribu lautan   Memilin angin pembawa khabar Tak sampai-sampai Mengarungi samudra lintasi semesta   Benih merimbun menimbun rindu deru hujan menyaru namamu Jendela terkuak, langit sabak

Mencari Musim

Image
Rizal De Loesie   Selepas senja Matahari di matamu memagut hulu cuaca Kecambah cahaya redup tiba-tiba Genangan lekuk nasib Sebait sepi menjarah cawan waktu Sungai mengalirkan musim Hangat terjal dan luka   Sepi menari menghias relung gaung Wajah berkaca. Cermin diri mencari batas –batas ikhlas Bukan tentang telaga mimpi Duri dalam dada yang curam Menekuk daunan malam   Hidup adalah suluh api Dari rahim jiwa. Hati adalah racun Pikiran itu sendiri Buritan semua mimpi bermuasal musim belum mengepak layar Perahu tersandar menaut bisu

Meluruskan Aqidah

Image
Rizal De Loesie   Ya Tuhanku, Telah berlama kami penjarakan hati sendiri Pintu menutup sebahagian Dari rumah-rumah kami, dan rumah-Mu Rasa percaya pecah, terhasut banyak kabut   Tumbuh dalam keyakinan   Tuhan, ampuni kami Telah meniti banyak lorong dan jalan Hingga samar jalan-Mu dalam iman Lampu kota dan suara musik Dan berbagai mainan kami agungkan   Ya Tuhan, pemilik semesta Ampunkan dosa kami, salah dalam meminta Ampunkan dosa kami, yang lalai menua Meninggalkan jejak sepatu di sajjadah Luruskan aqidah meng-Esakan-Mu Aamin   Bandung, 2020

Asalkan Saja Kau Sampai Jua di Syurga

Image
             Rizal De Loesie Setiap Rabu aku berjalan sejenak, ke warung berbaju pangsi hitam   Karena seperti itu aturan tercatat bagi rakyat yang mengabdi digaji dan sesekali dizalimi. Itu pun lumrah, dalam darah tak semata Yang baik-baik saja. Masih ada dusta dan akal-akalan yang menjadi sayuran Minuman kaleng dan kopi serta berbasa-basi. Setiap Rabu itu, setelah menyetorkan wajah puitisku ke mesin absen, lalu berlalu Sengaja di depan ibu-ibu. Rata-rata usianya senja, dan   matanya masih menyimpan banyak rahasia dan tanda tanya. Tetapi wajahnya teduh dengan do’a dan aku suka itu. Suatu rahasia dan bukan rahasia sebenarnya, Lelaki suka menganiaya, menganiaya dirinya sendiri berlapis sapa menghampiri. Lelaki adalah lelaki yang tak peduli diajari. Sungguh menghapuskan bercangkir kopi dan menghembuskan benih awan adalah sebagian nikmat tuhan yang paling nyata. Buktinya, tanpa sapa pag...

Perjodohan Langit dan Bumi

Image
Rizal De Loesie Tak ada perhelatan untuk sepi Seekor kupu melayang di atas ranting Melarung kata rindu di kepak sayapnya Lalu butir awan menggenang Sejenaklah berhenti Menjahit sayap nan retak Merangkai dedaunan Menyamarkan rindu Biarkan ranting teraguk angin Tak ada perjamuan untuk rindu Secangkir kopi terbiar dari udara yang asam Tumbuh belukar dan ladang Dalam ingatan Tak ada perpisahan dirayakan Kata bersuku-suku memaknai perbedaan Perjodohan langit dan bumi Di menangkan matahari Bandung, 2020

Sepasang Sepatu

Image
Rizal De Loesie Sepasang sepatu itu gampang, tinggal  pesan Dan menuliskan utang, tak sesulit menjahit daun Menjadi pohon tempat cinta menenun Sepasang sepatu menyusuri petang, Antara rama-rama dan bunga di taman itu Dalam kemesraan rahasia, Angin begitu santun menuntun Melepaskan benang sari satu persatu sepasang sepatu ke-pintu rumahmu hanya jejak yang tersibak menyusuri bilur-bilur luka dalam pandangan mata Bandung, 2020

Sampan Retak

Image
Akhirnya laut telah pasang Merendam sampah, rumah dan kesah Nyanyian buih. Desiran pasir ragu-ragu telapak senja yang menguning Sampan tersandar, terhentak antara terik matahari aku mengingaukan sebuah pulau Dengan sampan retak

Perempuan Itu

Image
Rizal De Loesie Perempuan itu, Tumbuh genangan airmata di punggungnya Beban matahari di pundak Langkahkan kaki menyusuri hamparan asa Savana yang mengering, memunguti bunga kering airmata menyambut tetes embun di jemarinya Mengalirlah lautan tabah di tiap langkah Perempuan itu, sendirian menua dipahat waktu Guratan malam mengajarkan segala astu Atas nama cinta, atas nama tuhan Kepada pemilik semesta Perempuan itu, adalah banyak perempuan perempuan mewariskan hidup Untuk hidup yang lebih lama Belulangnya sekeras cinta, telapak kakinya Adalah syurga Bandung, 2020

Di Atas Cadas

Image
Rizal De Loesie Pohon yang enggan  Berpuluh pagutan akar Tak menjamah asin lautan Biduk yang lalu antara ganggang Hanya buih sejenak menjadi air Sedangkan aku, Menggurat puisi mengemas hati Jika laut adalah muara Aku berenang di atas cadas

Dari Sahabat

Image

Merah Darah

Image
  Rizal De Loesie Suatu saat, ingin ku berjemur di pucuk matahari Kala malam kubergayut di bulan purnama Sesempurna rekahmu nan merah darah pun hujan menderukan kelopak ingatan lereng-lereng tajam, lekuk-lekuk nan diam Menguliti kabut jiwa yang fana Kekal adanya bilur sampai senja Hujan itu percuma Hanya menganggukkan tangkai mawar Tak menjatuhkan benang sari Suatu saat ku berlari di atas lautan Awan di kepala mengajari luasnya samudra Cicit camar keletihan… buih membasuh airmata

ANGIN YANG MERAHIMKAN SYAIR

Image
Rizal De Loesie Aku hafal benar dengan angin, Aromanya, warna dan tabiatnya Bersebab dianya senantiasa ada Walau dalam ketiadaan Kedangkalan pikiran. Rasa Dan pengharapan Di jejaknya lambai jiwaku dan Memancang tanda-tanda Meruap pada dinding dengan lukisan rupa Aku hafal benar riuhnya hentikan geloraku Bersenandung pita suara pecah di ujung malam Aku hafal benar aroma angin menutup pintu yang kuketuk berulang Di hari kelahiran ketika angin mengutuk di telinga saat impit hidup menyesak Aku hafal benar liukan angin pada ilalang menumpahkan inspirasi di ladang puisi Seperti aku mengenal benar diriku penuh sukatan ketidak sempurnaan Dan aku benar paham rasanya dilamun angin, Yang merontokkan bulu mata menatap cakrawala Tempat kusandarkan do’a Dan angin benar-benar terlalu dekat di jendela Membawa rinai, Dan angin yang telah merahimkan syair-syair Karena aku tak akan berkidung Karena tandan duka telah bersenandung angin Ban...

Pelukan Diksi

Image
Rizal De Loesie Mungkin hujan tak begitu mahir memagut lengan Biarlah ku seduh sebait puisi  dirangkulan Sementara rebas mencatat detak irama dada Di luar dedaunan berpelukan tanah basah :mungkin purba rindu Mentakdirkan hangatnya air mata Kepul kopi pun wajah pengantar kisah lincah   menemukan semu Sedang kepergian jeda kalimat rindu Kemarau telah lama mengajarkan sepi Berpanjang-panjang sejarak engkau Namun katup jiwaku merahimkan kunang-kunang Menemukanmu dalam cahaya yang kuanggap bulan Jika datang jua, datanglah merupa angin Agar kemarauku tak terpaut igau getarkan lagi gulungan ombak di dada kita Nyalakan bara perapian puisi Akan kuseduh lagi berjuta pelukan diksi Menjadi ritma napasmu yang paling sahdu Bandung, 2020    

Laron dan Lampu Kota Yang Sepi

Image
Rizal De Loesie Sungguh engkau bukan tersesat, karena pertemuan tak harus tercatat Engkau melintas bayangan, sayap malam mengambang lalu jatuh di pelukan. Tak ada puisi lahir dipaksakan, karena puisi bahasa kalbu tanpa ragu-ragu Syair mengalir dan rebah di dada pujangga, Desah napas kata yang rebah, diksi menjadi bening mutiara tanpa guratan Terpajang semua kisah dalam lembab malam Redup cahaya nyala dalam dada, riuh senandung tak lagi mampu menahan jerat malam yang menyulut benih api. Lalu mimpi mengalirkan anak sungai di bawah syurga. Dari jemari lentik bidadari luruhlah segala jemu Kita menjelma laron-laron dan lampu kota yang sepi **