Bercumbu dengan Angin
Rizal De Loesie
Ingin kupeluk hangat tubuhmu
Yang menghembus di sela jantung dengan serajut nada cinta dan rindu yang membiru. Melepaskan kasih atas nama keindahan rida tuhan. Memberi reda dalam gejolak jiwa yang bisa menjadi petualang, karena kerinduan seharusnya dalam pelukan. Biar mata hanya tahu warna dan manis ikhlasmu. Kuraih tubuhmu sepenuh cinta, sepenuh jiwa melepaskan segala kelana hanya bermuara padamu.
Jangan kau menolak, yang membilurkan luka batin berjejak. Jangan kau lari dari rasa ingin, karena kedinginan melahirkan banyak syair yang melepaskan jeruji-jeruji hati yang luka. Dan aku akan terjerat pada selembar malam yang begitu kelam, yang menjadi catatan kisah yang tak dapat lagi menjadi catatan kisah yang tak dapat lagi menjadi syah.
Maka kepadamu angin, bukankah engkau sudah kulamar berabad lalu sebagai bagian dari tubuhku agar sempurna. Tetapi bagimu yang tak memiliki sekat, aku hanyalah dinding yang bisa kau sisihkan dari pandangan. Hingga lenganku tak bisa sempurna meraihmu.
Angin, aku tidak akan mampu menahan serpihan pusi ini, karena puisi adalah isi hati yang harus segera tuntas. Tetapi jemarimu yang enggan membuat pusiku menjelma kata yang mungkin melukaimu.
Suatu kala nanti, jika sebait puisiku harus lepas, jangan kau jerat dengan beribu alasan yang menyudutkan. Dengan tembang yang kau sumbangkan nadanya atas dosaku. Aku telah sekian waktu menyandarkan rasa sabar atas derumu yang hanya lalu .
Jikapun hinggap engkau hanya sebatas bertengger di rerantingku yang telah begitu kering, tak lagi dapat membasahi dedaunan sesungguhnya dengan kasidah terindah. Karenamu angin semilir tak menghanyutkan apa-apa, tak menerbangkan daun kering jatuh ketanah menjadi awal kehidupan
Aku tak akan lagi meraih putik angin, tak lagi berhamba padamu. Biarlah gemuruh ombak di dadaku pecah di garis pantai dengan butiran pasir yang bisa kupunguti diam-diam
Kelak aku tak lagi mengenal rasa hembusanmu di tiap genangan telaga yang lama tersia. Saat itu entah aku atau kau angin yang terhempas badai. Tetapi aku telah pasrah kepada musim dan cuaca, kepada semesta dan pemiliknya.
Bandung, 2020
Comments
Post a Comment