Posts

Showing posts from March, 2019

Singgah

Image
Pada tanah-tanah rekah   untai kata melengkung daun pongah ranting  menipis jeruji rangas Membilur pada luka-luka  tanya, Jangan kisau pohonan mencari putik Bila daun pun enggan bersetubuh hujan Dia balut gerah pada ujung lidah kau hanya petualang singgah, Bandung, Maret 2019   

Taman Kecil

    Aku  angin  tanah basah Membagi rupa  aroma dupa Setelah perhelatan sunyi Pada makam sejarah Ke ujung jemari memasak Kata-kata puisi ** Jika itu membuatmu   pergi Di jendela ku titip taman kecil Resah  yang kusiram diam-diam mekar sederhana di lekuk angin Sekedar wangi  keningmu ** Aku merupa putik cahaya Tak padam di dera, Jatuh dari bara duka Jika kata menjahit sukma Aku benang tak pernah dikenang

Kampung

Sesuatu  memaksa ingatannya Pada sua jalan pintu rimbo, Dipersua  turunan melengkung Ketanah lurus kampung halaman Darahnya memancur, hinggap percik Pada kalung-kalung waktu menjerat wangi rendang ibunda meraba jiwa menginsut pulang Kini ditatinglah silsilah dan suku Jambak lambah entah. Membenam Batang Anang,  semak-semak yang dirambah titah Sepanjang alir dari atas. Tertumpu Di badan. Gelar lekat dinama Sutan Rajo bungsu Bertaut kabut, jalan mendaki Cadas dan jurang menghadang bujang Jatuh embun dan bulan sabit Seiring airmata ibunda Entah laut kan redakan badai, Namun doa tetaplah sampai Bandung, 2019 Rizal De Loesie

Garam

Laut mengeram asin Terjilat pantai dan karang Lidah camar menyambar-nyambar Meracau pada langit Membasah kesah Sayap tak pernah terbang Dari gamit pandang Aku menjelma air asin, Meramu segenap luah Menyisih setiap ludah Kata dan dera dari menara Di pantai curam gulita malam Kau sauk air, kau tadah rekah Pada matahari berdengkang Lalu kau cicip sari garam Dari bongkah-bongkah lelah Bandung, 2019

Rembulan Turun

Rembulan turun Jinak melingkup wajahmu Seperti syair yang lepas Dari tampuk hati Binar cahaya matamu Di bawah rembulan Janji enggan Meraih perlahan Engkau samar Engkau igau Rembulan yang sunyi Tertusuk ranting Pandangan Hanya membayang Di cangkir kopi

Rindu Adalah Ketiadaan

Pada musim gurun Angin melipat-lipat rindu Hening senja, ilalang bergoyang Serasa getar hati terdera Merasuki celah kopi, Di alun air gemercik kecapi di meja kenangan berkas cahaya purba matahari masih mengerak, titik pandang indah geraimu bibir ditindih hujan rayu bila kata rahim senja di rebus pujangga pada tebing-tebing sunyi kau seduh pun kopi senja ini dari tungku jiwa menyusup candu rindu pada cangkir-cangkir harap terhampar kehampaan sesungguhnya rindu adalah ketiadaan Bandung, Akhir Maret 2019

Kesunyian……

Rizal De Loesie Seputar bening matamu bibir cangkir, wangi gerai rambut pelupuk mata, terjaga dalam piuh-piuh senja bangku lamunan dibalut hening segumpal rasa asing dibawa angin mengumpat pada tarian awan terkisau sejenak, matahari lembab pada ujung pena kenangan, sajak-sajak tergeletak cangkir retak tak punah jua lelah menjangkau igau menghimbau di balik jeruji jiwa mati suri seperti langkahmu beranjak pergi Bandung, akhir Maret 2019

Kugurat-gurat Sajak Menghilir

“Setelah Embun disembunyikan butirannya” Kugurat-gurat   rindu di dinding-dinding Di alas-alas, di pucuk-pucuk kenangan, Taukah kau sejengkal ingatku dalam lamun ranum Di ufuk fajar bertampuk cahaya Yang menikam kian tajam kelorong- lorong Persembunyian jiwa Betapa aku rebah ingin mengguratkan sajak Tentang jejak dan telapak-telapak, menelanjangi biji kopi dan melumatnya Menjadi wangi mengambang Mengambil sari terpahit dan terbaik Menyisakan ampas dan menyiasati pahitnya Tak sampai kehulu hati, namun Manisnya tersungging di bibirmu Aku rebah meraup dan merebus ratusan kata Memilah-milah salah, dosa dan doa Terangkai jambang lembab yang tak kenal lelah Bersebab haluan mengarah di bawah rahmah dan istiqamah Setelah itu, sajak-sajak menyampai di hilir syair Tak perlu memintal ke muara Bandung, 2019
“Setelah Embun disembunyikan butirannya” Kugurat-gurat   rindu di dinding-dinding Di alas-alas, di pucuk-pucuk kenangan, Taukah kau sejengkal ingatku dalam lamun ranum Di ufuk fajar bertampuk cahaya Yang menikam kian tajam kelorong- lorong Persembunyian jiwa Betapa aku rebah ingin mengguratkan sajak Tentang jejak dan telapak-telapak, menelanjangi biji kopi dan melumatnya Menjadi wangi mengambang Mengambil sari terpahit dan terbaik Menyisakan ampas dan menyiasati pahitnya Tak sampai kehulu hati, namun Manisnya tersungging di bibirmu Aku rebah meraup dan merebus ratusan kata Memilah-milah salah, dosa dan doa Terangkai jambang lembab yang tak kenal lelah Bersebab haluan mengarah di bawah rahmah dan istiqamah Setelah itu, sajak-sajak menyampai di hilir syair Tak perlu memintal ke muara Bandung, 2019

Di sini

Tak banyak suara Seperti siul ombak menghempas cadas Mempermain buih dan candaan camar Lalu terbang, kepak sayapnya Bermanik bening mata bidadari Tak banyak sajak lepas dari tangkai hati Karena kuncup lelah mengepak sari Biarkan saja kupu rapuh sayapnya Terbangkan debu-debu Terbangkan ragu-ragu Di sini, Memanjangkan hari Memanjakan jiwa-jiwa yang lara Dari sari jiwa yang mati
Image
Sampan Camar tak henti meniti  buih. Angin berderu gemuruh   dadamu. Nyala langit terkuas dalam degup awan merah. Mengikut lekuk alir sungai panjang berdesir. Bening tatap  jarum hujan  jatuh di sudut kerinduan. Laut bergelora, pecah ombak terkuak haluan sampan. Layar mengambang lepas satu persatu. Sampan mengaung dalam kenangan menimba - nimba  putik rindu. ** Jendela dan pintu tergembok waktu, tak ingin  usai. Tak ada yang didustakan cinta di landai pantai. Angin berkisau di gerai rambut. Tak banyak diksi melukis  taut jemari dalam dekap, mata   setengah redup. Menyusun ritma insang di gelora ombak, tak reda berkayuh. Sampai piuh angin menghentikan tetes embun, Sampan tersandar di dermaga tersenyum ranum. Bandung, 2019