Posts

Showing posts from April, 2019

Ringkik Kuda

Ringkik kuda itu, tak pernah lagi terdengar merdu Di balik rerumputan perdu. Tak mengisi laparnya Ia tlah lupa rasa lapar dan haus yang digantung ke puncak gunung. Akarnya melilit kian menyipit Di selala batu. Nafasnya kuning ke angkasa, menyaksikan   Molek matahari dalam kegelisahan itu ** Telaga yang bening beriak-riak dalam canda atma Melintas kidung-kidung di bawa angin sesayup, Tak sampai membelai bulu-bulu dan pelana Yang terus membawa siksa, Sedang camar menggetar-getarkan bulunya, Mengibas cercah air yang diciumnya ** Pada malam yang sembunyi diam-diam, Diukir lukisan senja, meraba aroma mawar jingga Menunggu sampai fajar membelah putik rindu Menyaksikan rekah, ditetesi embun-embun Dalam riindu yang ranum

Pisau

Sebilah pisau di atas meja, Apel menatap nyeri jemarimu amat manis Di gerusnya Pada kelopak kata Menghukumnya

Dedaunan

Dedauan gugur, tangkai telah rela melepasnya Angina membawa aroma yang menanggalkan Segenap kait dan jeruji, Melayang karena angina tak rela dia jatuh Menyulam-nyulam penyesalan Daun yang letih terapung sungai Membawanya pada arus-arus Pada gerus-gerus Tersangkut atau hanyut Memerdekakannya senja menguning dan hening

Pada suatu sore tanpa Kopi**

Setelah regang siang amat panjang, Segenap lelah rebah di sajjadah Kata adalah do’a, katamu Dan do’a menutup segela lupa Bila berserah,

Sepotong Roti dan Kopi

Sepotong roti dipinggir pagi Cicit burung mungil sepasang Telah terjaga dibias embun Se cangkir kopi matahari Di atas meja dan berita Tentang senja yang lupa Siang membelah bayang Kemana jejak-jejak hilang? Dimakam-makam sunyi Yang tlah dimandikan sepi

Hujan

Hujan mendamaikan selokan Juga jalanan, jejak perkelanaan butiran kabut pekat yang kita rekat dan sekat

Sajak Pengantin

Senja ini adalah penganten Berjela gaun panjang diiring kembang Menapaki bait sajak Yang tak hendak mati Kepelukan syair tabiat senja rona wajah Perempuan memintal kata Dari niat tidak sempurna Putik ombak yang beriak Batu karang dan pasir Sepanjang desir

Pucuk Cemara Pagi

** Rizal De Loesie** Kau kecup   dedaun cinta   Di malam berkabut, Ke ujung sana lepas   pandang Di ranting basah Ketika cicit murai kian genit Merayu gemintang, Langit bertirai kemerahan, rekah Di bibir pengembara cumbu Lalu laut melepas ombak semerbak Butiran pasir yang renyai, Teduhkan damai Di pucuk cemara pagi **

Sudut Stasiun

Rizal De Loesie Senja jatuh di gerbong terakhir, Sudut stasiun ini, Rangkai-rangkai perpisahan Atau permulaan Kucari senyummu antara deret peron-peron   seperti senja tenggelam dalam genggam   pemintal kisah hanya rel-rel berangkulan, dari balok   dingin hatimu tak pernah benar tersua keujung, kelengkung langit lindap menjamah jiwaku dalam getarnya menjadi getir Bandung, 2019

Perhentian

Image
**Rizal De Loesie*** sajak   lahir dari pucuk jiwa Melata pada dinding kenang, Perjalanan panjang Simpul waktu tak punah Menceritakan kisah Mengendap sari kopi Entah kau bicara pahit Setelah kemanisan hilang Seilir jejak menepi cahaya Manik-manik tertangkap tangan basah Kau hirup sari jiwa nan gundah Tertadah dalam keresahan kan kautemukan hanya   rasa menghambar, manis hambar yang menghampar sementara manis tergerus ombak sesaat menggubah tepi dermaga tapi aku tak lagi mengangkat sauh di perhentian itu Bandung, 12 April 2019 Terinspirasi sebuah lagu

Sepatah kata

Image
Rizal De Loesie rembang mencakar   ingat mengintip setengah cangkir kopi pelabuhan tlah lama usang pada tadah retak di utus langit sabak aroma menjalar urat nadi menjadi merah senja menghapus lupa Sepatah kata di balik jendela Menjadikan semua tiada

Tepi Malam

Image
**Rizal De Loesie*** Kucium tepi malam nyanyian hening tertatih lirih Sesenyap kelopak sunyi Tangkai   daun mimpi Tertangkup embun Menyusup lamun ** Kepada serasah daun Yang gugur Hinggap jua tetes embun Perlahan mengalir nafas Ke pucuk cakra Ketika tasbih menindih Dalam jambang do’a ** Kalau tidak pada siapa lagi, Kuratakan kesah   pada angin Kuhasut malam, ku kisau desau Gemercik alir ke akar-akar kepada Tuhan bersandar Bandung, 11 April 2019

Letih

Image
    Oleh : Rizal De Loesie Pada alir sungai yang hambar Tlah kutitipkan sajak Direlung-relung akar bakau Sepanjang jejak Perahu yang ditelan senja Dengan rampai bunga Ditebar perawan desa Kiambang tlah kuncup bertaut Kala bibir waktu kian merah Rekah menyusup alir darah Dikepung rindu Pada langit yang ringkih Hanya lukisan bercak putih Jiwa yang letih

Kusembunyikan Debarnya

Image
*** Rizal De Loesie*** Aku ingin berjalan lurus ke ujung tak hingga dan menghapus semua jejak di belakang, tiada sedetak pun ingat hinggap. Membiarkan jendela terbuka selamanya, menunggu ragu dan kebimbangan tidur lelap dalam ayunan bayu. Kubiarkan kupu menyentuh sari yang lama terangguk bisu, biar rebah kesahnya bersama tetes embun pada rangas ranting lengking. Aku tahu, antara batas bait adalah jeda nafas yang tersisa, untuk melantunkan nyanyian sukma. Kepada tetes embun singgah sejenak, luka telah redam dalam genggam. Setampuk hujan yang turun dalam lamun menjadi kata-kata berkecambah Puisi menjadi cahaya penuh makna dan dosa. Ah, seperti itukah. Seperti senja yang kusimpan dalam rindu. Seperti larik-larik sajak mengambang bersama mambang di hulu sungai. Perahu tersandar menyembunyikan retak. Akan kurengkuh montok kata dan lengkung langit pada siluet senja yang kusembunyikan debarnya.

Ujung Samudra

Image
Rizal De Loesie**** Kepul dan bau kopi menepi Jendela kata tersingkap Menjajah bait lantang Air yang terhadang badai Angin  terkurung tirai Pada daun-daun menutup Canda lirih pada buih Disisakan malam ** Dia pungut kata bertabur manik Cahaya aura semesta Tetang dera nestapa Dikuak sejenak dalam hela Keujung bait nafas Perlahan jatuh ke lantai ** Puisi dimeditasi, Dari hati mutilasi Mencari makna hakiki Kesunyian ritma Diperlatar ujung samudra Yang tak reda

Tanah-Tanah Yang Ramah

garis bibirmu, kulihat perjalanan Dan gurun pasir yang gugur, Telaga yang kering dari kasih Batu yang keras karena rindu Segaris jalan hening kini Mengental dan beku * Dari lisanmu diam, Puisi-pusi yang lahir Dari kelam Rahim cinta Diasuh rembulan sabit Di pucuk-pucuk kemilau Basah air mata * Dari jalanmu yang lunglai   Di sisi makam, Kutemukan tabah di tanah-tanah Yang kelak ramah Menjamah segala kesah

IKHLAS

Image
Kenangan adalah ampas waktu Yang mengeras di dasar cangkir Sebelum  sempat membasuh  luka Bilur-bilur menjadi lukisan senja Di balik rintik hujan, Kerontang mengerang lantang Terlau berat menjadi suluh Di tengah badai ** Berkas cahaya dari dadamu sepertiga malam mengangkat keubun-ubun kepasrahan ikhlaslah menjejak lalu ikhlaslah menitih harap kau genggam api redam kau tiup angin lalu jika tersandar pada yang hak