Kusembunyikan Debarnya
*** Rizal De Loesie***
Aku ingin berjalan lurus ke ujung
tak hingga dan menghapus semua jejak di belakang, tiada sedetak pun ingat
hinggap. Membiarkan jendela terbuka selamanya, menunggu ragu dan kebimbangan
tidur lelap dalam ayunan bayu.
Kubiarkan kupu menyentuh sari
yang lama terangguk bisu, biar rebah kesahnya bersama tetes embun pada rangas
ranting lengking. Aku tahu, antara batas bait adalah jeda nafas yang tersisa,
untuk melantunkan nyanyian sukma.
Kepada tetes embun singgah
sejenak, luka telah redam dalam genggam. Setampuk hujan yang turun dalam lamun
menjadi kata-kata berkecambah Puisi
menjadi cahaya penuh makna dan dosa.
Ah, seperti itukah. Seperti senja
yang kusimpan dalam rindu. Seperti larik-larik sajak mengambang bersama mambang
di hulu sungai. Perahu tersandar menyembunyikan retak.
Akan kurengkuh montok kata dan
lengkung langit pada siluet senja yang kusembunyikan debarnya.

Comments
Post a Comment