Ringkik Kuda
Ringkik kuda itu, tak pernah lagi
terdengar merdu
Di balik rerumputan perdu. Tak mengisi
laparnya
Ia tlah lupa rasa lapar dan haus yang
digantung
ke puncak gunung. Akarnya melilit kian
menyipit
Di selala batu.
Nafasnya kuning ke angkasa, menyaksikan
Molek matahari dalam kegelisahan itu
**
Telaga yang bening beriak-riak dalam
canda atma
Melintas kidung-kidung di bawa angin
sesayup,
Tak sampai membelai bulu-bulu dan
pelana
Yang terus membawa siksa,
Sedang camar menggetar-getarkan
bulunya,
Mengibas cercah air yang diciumnya
**
Pada malam yang sembunyi diam-diam,
Diukir lukisan senja, meraba aroma
mawar jingga
Menunggu sampai fajar membelah putik
rindu
Menyaksikan rekah, ditetesi embun-embun
Dalam riindu yang ranum
Comments
Post a Comment