Kini Mungkin nanti Atau tak pernah lagi Kudengar percakapan angin Percakapan senja Muasal rindu Bermuara kepadaku Atau Kepadamu Mungkin, Tak sekedar kata menggurat luka Tak sekedar enggan menjerat kata Menjadi badai yang terlipat sunyi Mungkin tidak Tetapi semesta mengajarkan cara Meniup angin ke arah ranting Hingga tiap helai daunku terus bergetar Tiap jengkal akarku mencengkram bumi Pada simpul puisi paling suci Pun waktu hanyalah meraba cinta, Seperti kekasih langit, kerinduan lautan Pada apsara, pada semesta Yang mengajarkan mengeja hidup Yang paling hakiki Bandung, 2021
Rizal De Loesie Hari-hari yang kupikul sendiri Sejauh perjalanan siang merenda luka Nganga pada belulang rapuh nan haus. Kidung sumbang antara riuh angin musim kemarau Malam kubalur semua luka lebam keheningan Menatap sepasang kaki buah hati Dan menghimpun lagi setaman asa, Dalam keridhaan, dalam keikhlasan Bukankah semua dosa telah dilepas ikhlas Semua salah berpulang takdir Kini aku merupa dua nyawa, Yang seharusnya luka dibagi dua Tetapi, hidup lebih tau mengajari seperti alam Seperti tegar karang dan musim hujan Akan kurenda catatan dan harapan Dalam diary seorang janda Bandung, 2019
Comments
Post a Comment