Asalkan Saja Kau Sampai Jua di Syurga


            


Rizal De Loesie

Setiap Rabu aku berjalan sejenak, ke warung berbaju pangsi hitam  
Karena seperti itu aturan tercatat bagi rakyat yang mengabdi
digaji dan sesekali dizalimi. Itu pun lumrah, dalam darah tak semata
Yang baik-baik saja. Masih ada dusta dan akal-akalan yang menjadi sayuran
Minuman kaleng dan kopi serta berbasa-basi.
Setiap Rabu itu, setelah menyetorkan wajah puitisku ke mesin absen, lalu berlalu
Sengaja di depan ibu-ibu. Rata-rata usianya senja, dan  matanya masih menyimpan banyak rahasia dan tanda tanya. Tetapi wajahnya teduh dengan do’a dan aku suka itu.

Suatu rahasia dan bukan rahasia sebenarnya,
Lelaki suka menganiaya, menganiaya dirinya sendiri berlapis sapa menghampiri. Lelaki adalah lelaki yang tak peduli diajari.
Sungguh menghapuskan bercangkir kopi dan menghembuskan benih awan adalah sebagian nikmat tuhan yang paling nyata. Buktinya, tanpa sapa pagi dan kopi,
hai puisi: hidupmu akan hampa dan merana hari ini. Darahmu meninggi mencakar, merobek langit-langit kesabaran. Menukik bagai sayap elang ke samudera yang tak henti debur ombaknya. Bisa menghapus banyak kebaikan saat itu. menghentikan banyak pendapat dalam rapat dan sandiwara yang diperankan akan ketahuan dan wajah kusam.

Tak semua seperti itu, aku hanya menggambarkan seorang sahabat yang persis denganku, yang mengikuti bayang-bayangku. yang terdengar berbisik di telinga, di otak dan motorikku.
Seorang yang sangat tidak aku kenal kadang-kadang. Tetapi saat memanjakannya aku tahu benar caranya. Tak akan pernah kubiarkan lagi dia terluka apalagi terlunta perasaannya.

Setiap Rabu ada alunan musik Sunda, aku suka. Lebih tidak sukanya kalau yang sibuk bernyanyi adalah bapak-bapak yang hampir renta. Bagaimana aku mengambil sari keindahan darinya, dan aku tak ingin pula merampas kebahagiaan mereka.

Dan ternyata, mengenal sahabat yang amat dekat dengan kita perlu menuliskan banyak-banyak kalimat. Karena mengenal diri sendiri lebih sangat sulit di bandingkan tugas algoritma dan statistik dulu. Menulis kalimat harus hemat dan hati-hati, walau kata tak seperti mawar yang berduri tetapi mampu melukai dan menghakimi, bisa juga membersihkan dan menyisihkan. Jadi sahabatku akan kudekap kau hati-hati, karena sesungguhnya yang paling dekat denganmu adalah tuhan dan aku. Dan yang punya kuasa lebih memanggilmu hanyalah tuhan.

Dan setelah itu aku janji akan membiarkanmu kemana saja asal sampai ke syurga.

Bandung, 2020
Jika lelah bacanya ngopi yukk









Comments

Popular posts from this blog

APSARA

Diary Seorang Janda

Sajak Kemarau