Posts

Populer

Diary Seorang Janda

Rizal De Loesie Hari-hari yang kupikul sendiri Sejauh perjalanan siang merenda luka Nganga pada belulang rapuh nan haus. Kidung  sumbang antara riuh angin musim kemarau Malam kubalur semua luka lebam keheningan Menatap sepasang kaki buah hati Dan menghimpun lagi setaman asa, Dalam keridhaan, dalam keikhlasan Bukankah semua dosa telah dilepas ikhlas Semua salah berpulang takdir Kini aku merupa dua nyawa, Yang seharusnya luka dibagi dua Tetapi, hidup lebih tau mengajari seperti alam Seperti tegar karang dan musim hujan Akan kurenda catatan dan harapan Dalam diary seorang janda Bandung, 2019

APSARA

  Kini Mungkin nanti Atau tak pernah lagi Kudengar percakapan angin Percakapan senja Muasal rindu Bermuara kepadaku Atau Kepadamu   Mungkin, Tak sekedar kata menggurat luka Tak sekedar enggan menjerat kata Menjadi badai yang terlipat sunyi Mungkin tidak   Tetapi semesta mengajarkan cara Meniup angin ke arah ranting Hingga tiap helai daunku terus bergetar Tiap jengkal akarku mencengkram bumi Pada simpul puisi paling suci   Pun waktu hanyalah meraba cinta, Seperti kekasih langit, kerinduan lautan Pada apsara, pada semesta Yang mengajarkan mengeja hidup Yang paling hakiki   Bandung, 2021

Bulan Ranum

Rizal De Loesie   Malam ini, aku jatuh cinta pada rembulan bulat sempurna Dilingkari garis tipis awan melingkup kesetiaan Langit maha luas, cakrawala yang ku pandang Adalah harapan terhampar Walau kutahu, aku dalam sekat keterbatasan penat penantian   Bulan ranum, kubayangkan senyumam bidadari kemilau cahaya Sayap malam menyapa nurani, agungnya semesta diciptakan tuhan Begitu kerdil diri yang hanya menyiasati hati, Mengobati bilur luka, rindu dan asa yang terdera Sedangkan bulan hanya tersenyum manja   Diriku,bukan apa-apa, tetapi kau tak berarti bisa Menganggap serpihan asa yang menjadikanmu semu Aku adalah sari alam yang kukemas dengan ketuhananku dan semesta adalah ladang jiwaku untuk berdamai Dengan sayap bidadari dan sinar cahaya keikhlasan   Tak akan habis dalam imanku Tak hapus dari harapanku Tak satu pun kasidah dan kata membuatku luruh Dihamparan sajjadah adalah rumah bagi jiwa Yang terpungut lara   2020

Bercumbu dengan Angin

Rizal De Loesie   Ingin kupeluk hangat tubuhmu Yang menghembus di sela jantung dengan serajut nada cinta dan rindu yang membiru. Melepaskan kasih atas nama keindahan rida tuhan. Memberi reda dalam gejolak jiwa yang bisa menjadi petualang, karena kerinduan seharusnya dalam pelukan. Biar mata  hanya tahu warna dan manis ikhlasmu. Kuraih tubuhmu sepenuh cinta, sepenuh jiwa melepaskan segala kelana hanya bermuara padamu. Jangan kau menolak, yang membilurkan luka batin berjejak. Jangan kau lari dari rasa ingin, karena kedinginan melahirkan banyak syair yang melepaskan jeruji-jeruji hati yang luka. Dan aku akan terjerat pada selembar malam yang begitu kelam, yang menjadi catatan kisah yang tak dapat lagi  menjadi catatan kisah yang tak dapat lagi menjadi syah. Maka kepadamu angin, bukankah engkau sudah kulamar berabad lalu sebagai bagian dari tubuhku agar sempurna. Tetapi bagimu yang tak memiliki sekat, aku hanyalah dinding yang bisa kau sisihkan dari pandangan. Hingga lenganku...

Air Mata Penyair

Sebait sajak melayang bagai anak panah menikam penyair. Hulu kata menjelma anak sungai dari rahim jiwa yang disembunyikan diksi, majas dan rima. Dalam hutan rimba bersendirian menyusun cuaca hati, sedang musim adalah pasti tak pernah dimengerti. Sunyi adalah rumah bagi sepi, syair menghilir mengikuti irama takdir dari kering hati diramu bumbu ketabahan. Begitu angin dan malam menyalami gulita relung, yang ia simpan rapi. Menyelami tiap lekuk kata itu adalah airmata yang dikremasi dengan balutan ampas kopi. Membubungkan asap keletihan, membakar ngilu rasa yang paling hakiki. Seorang penyair telah menyandarkan keteguhannya dalam kata yang diam-diam menikamnya. Karena kesunyian itu hening. Hening menciptakan halaman puisi yang tak harus engkau pahami. Pada bait tersusun sari jiwa yang tersisa untuk hadir di beranda hatimu. Engkau terhanyut dan penyair tenggelam   2020

Memilah Angan

Rizal DeLoesie   Risak riuhya jiwaku Menikam hati yang ku pualamkan sebening matamu Diikat tembang sahdu angin malam Dari sela jeruji bayangan menyaru rindu Mengumpal dalam beku sungai air mata Pandangan mata hati Mengayuh sampan ke ujung Hampa   Lautan ombak, aku bermandi badai Tiada basah, hanya kepak sayap lembab Tersangga rasa yang tak sampai Di akar bakau tersangkut serajut kata Butiran pasir menjelma kaca Garis pantai menjulur lidah api Aku merupa debu di atas karang Memilah angan   Bandung 2020
Image
Cinta mengajarkanmu tahu Memiliki dan mengeja rindu   Sedangkan keperihannya Mengajarkanmu berlogika