Posts

Showing posts from 2019

Syair Kesendirian

Rizal De Loesie Selembar daun malam  gugur dipembaringan menunggu fajar. Tergelatak dalam kepasrahan panjang. Keriput perlahan disekujur tubuhnya adalah guratan perjalanan hidup yang tak lelah dari tabah. Ranting yang telah lama enggan menaut, membiarkan tampuk mengering dan putus. Bukan salah angin atau salah nasib, tapi takdir telah melahirkan syair-syair kesendirian itu. Sayap malam sepertiga sunyi, adalah asa menunggu bulir embun hinggap pada tubuh, menyiram kesejukan dalam kerontang jiwanya yang lengang. Berharap tetes itu hinggap bersama harap yang terus diucap. Walau dia tahu, kenangan yang berlalu adalah pijakan keperihan yang tak mungkin diubah. Hanya digubah pada syair-syair jiwa untuk sekedar belajar dan mengenang kenang. Pun hidup itu harus dinikmati sepahit apa. Seperti se- cangkir kopi yang terbiar dingin, walau telah berjuang demi seteguk rasa. Kini hanya ampas yang mengeras di relung jiwa tak berarti apa-apa. Tapi sesungguhnya dia telah berusaha menyug...

Ringkik Kuda

Ringkik kuda itu, tak pernah lagi terdengar merdu Di balik rerumputan perdu. Tak mengisi laparnya Ia tlah lupa rasa lapar dan haus yang digantung ke puncak gunung. Akarnya melilit kian menyipit Di selala batu. Nafasnya kuning ke angkasa, menyaksikan   Molek matahari dalam kegelisahan itu ** Telaga yang bening beriak-riak dalam canda atma Melintas kidung-kidung di bawa angin sesayup, Tak sampai membelai bulu-bulu dan pelana Yang terus membawa siksa, Sedang camar menggetar-getarkan bulunya, Mengibas cercah air yang diciumnya ** Pada malam yang sembunyi diam-diam, Diukir lukisan senja, meraba aroma mawar jingga Menunggu sampai fajar membelah putik rindu Menyaksikan rekah, ditetesi embun-embun Dalam riindu yang ranum

Pisau

Sebilah pisau di atas meja, Apel menatap nyeri jemarimu amat manis Di gerusnya Pada kelopak kata Menghukumnya

Dedaunan

Dedauan gugur, tangkai telah rela melepasnya Angina membawa aroma yang menanggalkan Segenap kait dan jeruji, Melayang karena angina tak rela dia jatuh Menyulam-nyulam penyesalan Daun yang letih terapung sungai Membawanya pada arus-arus Pada gerus-gerus Tersangkut atau hanyut Memerdekakannya senja menguning dan hening

Pada suatu sore tanpa Kopi**

Setelah regang siang amat panjang, Segenap lelah rebah di sajjadah Kata adalah do’a, katamu Dan do’a menutup segela lupa Bila berserah,

Sepotong Roti dan Kopi

Sepotong roti dipinggir pagi Cicit burung mungil sepasang Telah terjaga dibias embun Se cangkir kopi matahari Di atas meja dan berita Tentang senja yang lupa Siang membelah bayang Kemana jejak-jejak hilang? Dimakam-makam sunyi Yang tlah dimandikan sepi

Hujan

Hujan mendamaikan selokan Juga jalanan, jejak perkelanaan butiran kabut pekat yang kita rekat dan sekat

Sajak Pengantin

Senja ini adalah penganten Berjela gaun panjang diiring kembang Menapaki bait sajak Yang tak hendak mati Kepelukan syair tabiat senja rona wajah Perempuan memintal kata Dari niat tidak sempurna Putik ombak yang beriak Batu karang dan pasir Sepanjang desir

Pucuk Cemara Pagi

** Rizal De Loesie** Kau kecup   dedaun cinta   Di malam berkabut, Ke ujung sana lepas   pandang Di ranting basah Ketika cicit murai kian genit Merayu gemintang, Langit bertirai kemerahan, rekah Di bibir pengembara cumbu Lalu laut melepas ombak semerbak Butiran pasir yang renyai, Teduhkan damai Di pucuk cemara pagi **

Sudut Stasiun

Rizal De Loesie Senja jatuh di gerbong terakhir, Sudut stasiun ini, Rangkai-rangkai perpisahan Atau permulaan Kucari senyummu antara deret peron-peron   seperti senja tenggelam dalam genggam   pemintal kisah hanya rel-rel berangkulan, dari balok   dingin hatimu tak pernah benar tersua keujung, kelengkung langit lindap menjamah jiwaku dalam getarnya menjadi getir Bandung, 2019

Perhentian

Image
**Rizal De Loesie*** sajak   lahir dari pucuk jiwa Melata pada dinding kenang, Perjalanan panjang Simpul waktu tak punah Menceritakan kisah Mengendap sari kopi Entah kau bicara pahit Setelah kemanisan hilang Seilir jejak menepi cahaya Manik-manik tertangkap tangan basah Kau hirup sari jiwa nan gundah Tertadah dalam keresahan kan kautemukan hanya   rasa menghambar, manis hambar yang menghampar sementara manis tergerus ombak sesaat menggubah tepi dermaga tapi aku tak lagi mengangkat sauh di perhentian itu Bandung, 12 April 2019 Terinspirasi sebuah lagu

Sepatah kata

Image
Rizal De Loesie rembang mencakar   ingat mengintip setengah cangkir kopi pelabuhan tlah lama usang pada tadah retak di utus langit sabak aroma menjalar urat nadi menjadi merah senja menghapus lupa Sepatah kata di balik jendela Menjadikan semua tiada

Tepi Malam

Image
**Rizal De Loesie*** Kucium tepi malam nyanyian hening tertatih lirih Sesenyap kelopak sunyi Tangkai   daun mimpi Tertangkup embun Menyusup lamun ** Kepada serasah daun Yang gugur Hinggap jua tetes embun Perlahan mengalir nafas Ke pucuk cakra Ketika tasbih menindih Dalam jambang do’a ** Kalau tidak pada siapa lagi, Kuratakan kesah   pada angin Kuhasut malam, ku kisau desau Gemercik alir ke akar-akar kepada Tuhan bersandar Bandung, 11 April 2019

Letih

Image
    Oleh : Rizal De Loesie Pada alir sungai yang hambar Tlah kutitipkan sajak Direlung-relung akar bakau Sepanjang jejak Perahu yang ditelan senja Dengan rampai bunga Ditebar perawan desa Kiambang tlah kuncup bertaut Kala bibir waktu kian merah Rekah menyusup alir darah Dikepung rindu Pada langit yang ringkih Hanya lukisan bercak putih Jiwa yang letih

Kusembunyikan Debarnya

Image
*** Rizal De Loesie*** Aku ingin berjalan lurus ke ujung tak hingga dan menghapus semua jejak di belakang, tiada sedetak pun ingat hinggap. Membiarkan jendela terbuka selamanya, menunggu ragu dan kebimbangan tidur lelap dalam ayunan bayu. Kubiarkan kupu menyentuh sari yang lama terangguk bisu, biar rebah kesahnya bersama tetes embun pada rangas ranting lengking. Aku tahu, antara batas bait adalah jeda nafas yang tersisa, untuk melantunkan nyanyian sukma. Kepada tetes embun singgah sejenak, luka telah redam dalam genggam. Setampuk hujan yang turun dalam lamun menjadi kata-kata berkecambah Puisi menjadi cahaya penuh makna dan dosa. Ah, seperti itukah. Seperti senja yang kusimpan dalam rindu. Seperti larik-larik sajak mengambang bersama mambang di hulu sungai. Perahu tersandar menyembunyikan retak. Akan kurengkuh montok kata dan lengkung langit pada siluet senja yang kusembunyikan debarnya.

Ujung Samudra

Image
Rizal De Loesie**** Kepul dan bau kopi menepi Jendela kata tersingkap Menjajah bait lantang Air yang terhadang badai Angin  terkurung tirai Pada daun-daun menutup Canda lirih pada buih Disisakan malam ** Dia pungut kata bertabur manik Cahaya aura semesta Tetang dera nestapa Dikuak sejenak dalam hela Keujung bait nafas Perlahan jatuh ke lantai ** Puisi dimeditasi, Dari hati mutilasi Mencari makna hakiki Kesunyian ritma Diperlatar ujung samudra Yang tak reda

Tanah-Tanah Yang Ramah

garis bibirmu, kulihat perjalanan Dan gurun pasir yang gugur, Telaga yang kering dari kasih Batu yang keras karena rindu Segaris jalan hening kini Mengental dan beku * Dari lisanmu diam, Puisi-pusi yang lahir Dari kelam Rahim cinta Diasuh rembulan sabit Di pucuk-pucuk kemilau Basah air mata * Dari jalanmu yang lunglai   Di sisi makam, Kutemukan tabah di tanah-tanah Yang kelak ramah Menjamah segala kesah

IKHLAS

Image
Kenangan adalah ampas waktu Yang mengeras di dasar cangkir Sebelum  sempat membasuh  luka Bilur-bilur menjadi lukisan senja Di balik rintik hujan, Kerontang mengerang lantang Terlau berat menjadi suluh Di tengah badai ** Berkas cahaya dari dadamu sepertiga malam mengangkat keubun-ubun kepasrahan ikhlaslah menjejak lalu ikhlaslah menitih harap kau genggam api redam kau tiup angin lalu jika tersandar pada yang hak

Singgah

Image
Pada tanah-tanah rekah   untai kata melengkung daun pongah ranting  menipis jeruji rangas Membilur pada luka-luka  tanya, Jangan kisau pohonan mencari putik Bila daun pun enggan bersetubuh hujan Dia balut gerah pada ujung lidah kau hanya petualang singgah, Bandung, Maret 2019   

Taman Kecil

    Aku  angin  tanah basah Membagi rupa  aroma dupa Setelah perhelatan sunyi Pada makam sejarah Ke ujung jemari memasak Kata-kata puisi ** Jika itu membuatmu   pergi Di jendela ku titip taman kecil Resah  yang kusiram diam-diam mekar sederhana di lekuk angin Sekedar wangi  keningmu ** Aku merupa putik cahaya Tak padam di dera, Jatuh dari bara duka Jika kata menjahit sukma Aku benang tak pernah dikenang

Kampung

Sesuatu  memaksa ingatannya Pada sua jalan pintu rimbo, Dipersua  turunan melengkung Ketanah lurus kampung halaman Darahnya memancur, hinggap percik Pada kalung-kalung waktu menjerat wangi rendang ibunda meraba jiwa menginsut pulang Kini ditatinglah silsilah dan suku Jambak lambah entah. Membenam Batang Anang,  semak-semak yang dirambah titah Sepanjang alir dari atas. Tertumpu Di badan. Gelar lekat dinama Sutan Rajo bungsu Bertaut kabut, jalan mendaki Cadas dan jurang menghadang bujang Jatuh embun dan bulan sabit Seiring airmata ibunda Entah laut kan redakan badai, Namun doa tetaplah sampai Bandung, 2019 Rizal De Loesie

Garam

Laut mengeram asin Terjilat pantai dan karang Lidah camar menyambar-nyambar Meracau pada langit Membasah kesah Sayap tak pernah terbang Dari gamit pandang Aku menjelma air asin, Meramu segenap luah Menyisih setiap ludah Kata dan dera dari menara Di pantai curam gulita malam Kau sauk air, kau tadah rekah Pada matahari berdengkang Lalu kau cicip sari garam Dari bongkah-bongkah lelah Bandung, 2019

Rembulan Turun

Rembulan turun Jinak melingkup wajahmu Seperti syair yang lepas Dari tampuk hati Binar cahaya matamu Di bawah rembulan Janji enggan Meraih perlahan Engkau samar Engkau igau Rembulan yang sunyi Tertusuk ranting Pandangan Hanya membayang Di cangkir kopi

Rindu Adalah Ketiadaan

Pada musim gurun Angin melipat-lipat rindu Hening senja, ilalang bergoyang Serasa getar hati terdera Merasuki celah kopi, Di alun air gemercik kecapi di meja kenangan berkas cahaya purba matahari masih mengerak, titik pandang indah geraimu bibir ditindih hujan rayu bila kata rahim senja di rebus pujangga pada tebing-tebing sunyi kau seduh pun kopi senja ini dari tungku jiwa menyusup candu rindu pada cangkir-cangkir harap terhampar kehampaan sesungguhnya rindu adalah ketiadaan Bandung, Akhir Maret 2019

Kesunyian……

Rizal De Loesie Seputar bening matamu bibir cangkir, wangi gerai rambut pelupuk mata, terjaga dalam piuh-piuh senja bangku lamunan dibalut hening segumpal rasa asing dibawa angin mengumpat pada tarian awan terkisau sejenak, matahari lembab pada ujung pena kenangan, sajak-sajak tergeletak cangkir retak tak punah jua lelah menjangkau igau menghimbau di balik jeruji jiwa mati suri seperti langkahmu beranjak pergi Bandung, akhir Maret 2019

Kugurat-gurat Sajak Menghilir

“Setelah Embun disembunyikan butirannya” Kugurat-gurat   rindu di dinding-dinding Di alas-alas, di pucuk-pucuk kenangan, Taukah kau sejengkal ingatku dalam lamun ranum Di ufuk fajar bertampuk cahaya Yang menikam kian tajam kelorong- lorong Persembunyian jiwa Betapa aku rebah ingin mengguratkan sajak Tentang jejak dan telapak-telapak, menelanjangi biji kopi dan melumatnya Menjadi wangi mengambang Mengambil sari terpahit dan terbaik Menyisakan ampas dan menyiasati pahitnya Tak sampai kehulu hati, namun Manisnya tersungging di bibirmu Aku rebah meraup dan merebus ratusan kata Memilah-milah salah, dosa dan doa Terangkai jambang lembab yang tak kenal lelah Bersebab haluan mengarah di bawah rahmah dan istiqamah Setelah itu, sajak-sajak menyampai di hilir syair Tak perlu memintal ke muara Bandung, 2019
“Setelah Embun disembunyikan butirannya” Kugurat-gurat   rindu di dinding-dinding Di alas-alas, di pucuk-pucuk kenangan, Taukah kau sejengkal ingatku dalam lamun ranum Di ufuk fajar bertampuk cahaya Yang menikam kian tajam kelorong- lorong Persembunyian jiwa Betapa aku rebah ingin mengguratkan sajak Tentang jejak dan telapak-telapak, menelanjangi biji kopi dan melumatnya Menjadi wangi mengambang Mengambil sari terpahit dan terbaik Menyisakan ampas dan menyiasati pahitnya Tak sampai kehulu hati, namun Manisnya tersungging di bibirmu Aku rebah meraup dan merebus ratusan kata Memilah-milah salah, dosa dan doa Terangkai jambang lembab yang tak kenal lelah Bersebab haluan mengarah di bawah rahmah dan istiqamah Setelah itu, sajak-sajak menyampai di hilir syair Tak perlu memintal ke muara Bandung, 2019

Di sini

Tak banyak suara Seperti siul ombak menghempas cadas Mempermain buih dan candaan camar Lalu terbang, kepak sayapnya Bermanik bening mata bidadari Tak banyak sajak lepas dari tangkai hati Karena kuncup lelah mengepak sari Biarkan saja kupu rapuh sayapnya Terbangkan debu-debu Terbangkan ragu-ragu Di sini, Memanjangkan hari Memanjakan jiwa-jiwa yang lara Dari sari jiwa yang mati
Image
Sampan Camar tak henti meniti  buih. Angin berderu gemuruh   dadamu. Nyala langit terkuas dalam degup awan merah. Mengikut lekuk alir sungai panjang berdesir. Bening tatap  jarum hujan  jatuh di sudut kerinduan. Laut bergelora, pecah ombak terkuak haluan sampan. Layar mengambang lepas satu persatu. Sampan mengaung dalam kenangan menimba - nimba  putik rindu. ** Jendela dan pintu tergembok waktu, tak ingin  usai. Tak ada yang didustakan cinta di landai pantai. Angin berkisau di gerai rambut. Tak banyak diksi melukis  taut jemari dalam dekap, mata   setengah redup. Menyusun ritma insang di gelora ombak, tak reda berkayuh. Sampai piuh angin menghentikan tetes embun, Sampan tersandar di dermaga tersenyum ranum. Bandung, 2019

Semenjana

Persuaan silam terjuntai pada langit ingatan Pada masa kanak, menggiring ombak yang tak pernah sampai Sebaris sajak berdarah-darah mengenang, betapa kasih bunda memintalkan sayang sepanjang hayat, selimut jiwamu bila dera mejadikan tiadamu.rengkuh kukuh di dada api dinyalakan doa ayah ubunmu ditiup mantara-mantra tetua. Bunga rampai dan air kelapa lalu kau dinamai, untuk kau catatkan dalam wangi-wangi kebaikan tak  ada  sesempurna-Nya. Kesempurnaan batas insan semenjana tiap jengkal tanah leluhur mengikut arah jalan, jangan pernah salah mengarah masa hanya sementara, sejarak azan dan iqamah

Antologi Puisi

Image
https://bitread.id/book_module/book/view/1173/bila_tiada_lagi_rindu Pemesanan ke no wa di 082240412234.

Jika Guru

Jika Guru Jika guru itu Mengajarkan kami Sebatas yang mereka tahu kami mendapat sebesar apa Yang kami ingat Jika guru itu Hanya mencari nafkah kami di ajarkan sebatas waktu Yang ditarifkan Jika guru kami mendidik dengan hati Hati di balas   hati- hati Kami akan menjadi Berbudi pekerti Jika guru itu Merupa kasih sayang ibu bapa kami Kami akan berarti Dan tak pernah kehilangan kasih Jogja,   Februari 2019

Kopi

// kopi/ Darimu kucium sari kebibirku Gemulaimu ayu semerbak lekuk darah Cercah nadi hangat geliat Pada rasa, pada dada Pada lisanku tertulis nisan Mati rasa tanpa gula