Syair Kesendirian
Rizal De Loesie
Selembar daun malam gugur dipembaringan menunggu fajar. Tergelatak
dalam kepasrahan panjang. Keriput perlahan disekujur tubuhnya adalah guratan
perjalanan hidup yang tak lelah dari tabah. Ranting yang telah lama enggan
menaut, membiarkan tampuk mengering dan putus. Bukan salah angin atau salah
nasib, tapi takdir telah melahirkan syair-syair kesendirian itu.
Sayap malam sepertiga sunyi,
adalah asa menunggu bulir embun hinggap pada tubuh, menyiram kesejukan dalam
kerontang jiwanya yang lengang. Berharap tetes itu hinggap bersama harap yang
terus diucap. Walau dia tahu, kenangan yang berlalu adalah pijakan keperihan yang
tak mungkin diubah. Hanya digubah pada syair-syair jiwa untuk sekedar belajar
dan mengenang kenang.
Pun hidup itu harus dinikmati
sepahit apa. Seperti se- cangkir kopi yang terbiar dingin, walau telah berjuang
demi seteguk rasa. Kini hanya ampas yang mengeras di relung jiwa tak berarti
apa-apa. Tapi sesungguhnya dia telah berusaha menyuguhkan semampunya.
Begitulah, dilukisnya di antara sisa-sisa awan di gulita
malam, jika suatu kelak ada desir angin yang
mengusir lindap, membuka tabir-tabir cahaya bulan atau matahari.
Tabir Sunyi, 2019
Comments
Post a Comment