Posts

Showing posts from November, 2018
Image
** “ Kerinduan dan Kebengisan Burung Camar” Rizal De Loesie Ada yang harus kita tanggalkan sebelum tinggal remah waktu yang menjadikan lemah seberapa dalam ceruk jiwa mampu menabur bunga pada jurang terjal berbatu dan berdosa menjadi lumut mengerak menjadi tukak menguak segala onak yang tiada tampak ** kita harus lulus untuk lolos, dari jerat senyum senja menjamu malam durja ada yang harus kita lupa sebelum mengingat menanggalkan pasrah kekalahan di ujung jari elang lengang membiarkan cakrawala menulis catatan ** ada kerinduan dan kebengisan burung camar, mengibas kepaknya di atas buritan, menjulang terbang, mengawang di balik kutang menjalar pada serabut bakau mengikis buih menderu pada cangkar yang terbenam perahu laju tanpa haluan ** Kota Bandung, 19 November 2018

Tentang Angin dan Tongkang

Tentang angin, mengibas bendera tongkang di pelabuhan itu menyandar di kepasrahannya sauh telah mencengkeram dasar lumpur, talinya meregang ujung buritan tertanam bait-bait pahit diburai angin laut ini alas cakrawala dalam lukisan cahaya dan buram air mata penghiba dalam cerek menunggu lunar tajam mencurah bak darah ikan tuna di ujung malam cacian jangkrik dan burung hutan kayu lapuk teronggok sisi dermaga, menjalari buih-buih laut, menyisakan tiada pada se b elit akar bakau menjulai landai hempas balutnya mematah akar ganggang sampan cadik di labuhkan, ombak bersorak riak kata menyusup ke ceruk buritan menghapus haluan Bandung, 15 November 2018

POHON RANGAS DI PUNCAK DAGO

Image
Iustrasi Buku Antologi Puisi “Sekeras Karang Selembut Embun” Bilamana aku tiada lagi bersajak tentang angin dan senja kukatakan pada pohon rangas di pucuk “Dago” berkali-kali aku takut dahanmu begitu rapuh untuk bertahan, angin senja ini begitu dekat mengibas kejenuhannya sedangkan aku disini, menatapmu dengan se cangkir kopi sebelum turun se belok ke “Dago Pojok” Dago Pojok, 2017

Selangit Hujan, Serajut Doa di Laut Senja

Rizal De Loesie Sebuah Cerpen Dada Sumiati bergemuruh, berpacu deru mesin boat yang mengaung menjauhi dermaga. Seperti peluru dilepaskan para pejuang, speed boat terbang memecah gulungan ombak. Dermaga bergoyang, tapi hati Sumiati bergetar, betapa sesuatu yang telah dia bayangkan paling pahit dalam hidupnya akan terjadi jua. Dermaga ini sederhana dari kayu nyirih yang tersusun apa adanya, ada dua bangku panjang berseberangan. Dia duduk di salah satu bangku panjang sendirin, sementara bangku di depannya diduduki sepasang kakek nenek keturungan Tiong Hoa. Sumiati memandang sekilas, betapa kakek nenek itu juga tersenyum menatap Suamiati dalam wajah tidak karuan, dengan rambut sebahu digerai angin laut, menutup sebelah matanya. “ nak, tadi yang turun siapa? Pacar kamu ya?”, si kakek coba memecah suasana menatap pada Sumiati. “ Iya, “ Sumiati menjawab selepasnya, Kakek itu memandang si nenek dan tersenyum, Jam telah menunjukkan pukul 4 Petang, berarti sudah setengah...

Merenda Asa

Rizal De Loesie Diajarkan dalam kesederh anaan// Dari ayah seorang guru, ibu penata pangkatnya Dari segala rupa rumah tangga, gunung kasih yang tiada tara habisnya Sentuh sayang tiada terhalang/ rembang ** Suatu desa, sawah dan sungai tanda rindu   tiada layu Puncak gunung Pasaman bercanda awan putih, Pertanda kasih tak pernah kikis, Lembah – lembah hijau kemilau bintang, Dibesarkan buayaian nyiur   dan   hujan petang Gemercik murai, tetesan cinta di sana ada: Tungku     doa yang terus menyala // ** Aku taragak taratak nuansa menghimpit jarak Meniup-niup dedaunan di batas rimba ara, Hirup udara aroma cempaka, jambu air dan kopi Dihalaman tembang melati, itu dahulu sekali Dihadapan,   tangga kayu rumah kami Ibunda petik setiap pagi, katanya seharum surga ** Tergurat rindu ini kerabat, tergurat kenang ini Terjajah bathin menjadi lelah, rebah   genang airmata Pada orang-orang yang terus menyampai doa, P...

RINTIK RINDU

Pada rintik hujan, Tiada banyak harap kusampaikan Jika sayangmu   menjadi gigil jiwaku Jika pelukmu   menjamu mimpiku Dan suaramu   lirih di hatiku Kian jauh engkau gemuruh Pada deru hujan, Engkau saudarakan angin Kerak tukak   yang kutunggu dalam sajak piuhnya menjadi nanah pada luka yang terus menggerus kepada hujan yang bercumbu angin, sayangkah engkau kepadaku? dekapkan dinginmu dibelulangku rebahkan alirmu di dadaku tangkapkan rintik rindu untukku

Sebait Senja

Senja mengguyur remang cahaya, kemerahan membatas pandang jauh kelembah. Bukankah   dari sini mula terjadi. Dari matahari yang diasuh rembulan. Lahir dari rahim alam ciptaan Tuhan. Katamu, senja ini tiada seperti senja biasa, biasnya keperakan di dedaunan itu. Tiada akan lama daunan akan menguning dan jatuh. Dimana disembunyikan derak-derak langkah yang tertindih, jika keperihan hidup tiada redup. Engkau menjangkau terlalu pucuk. Dan dikakimu, rebah ilalang dalam pangku duka, yang tiada pernah menghukum dirinya. Sajak-sajaklah tanda ketiadaan. Pada bait-bait cangkir kopi hitammu, selayak senja