Selangit Hujan, Serajut Doa di Laut Senja



Rizal De Loesie
Sebuah Cerpen
Dada Sumiati bergemuruh, berpacu deru mesin boat yang mengaung menjauhi dermaga. Seperti peluru dilepaskan para pejuang, speed boat terbang memecah gulungan ombak. Dermaga bergoyang, tapi hati Sumiati bergetar, betapa sesuatu yang telah dia bayangkan paling pahit dalam hidupnya akan terjadi jua.
Dermaga ini sederhana dari kayu nyirih yang tersusun apa adanya, ada dua bangku panjang berseberangan. Dia duduk di salah satu bangku panjang sendirin, sementara bangku di depannya diduduki sepasang kakek nenek keturungan Tiong Hoa. Sumiati memandang sekilas, betapa kakek nenek itu juga tersenyum menatap Suamiati dalam wajah tidak karuan, dengan rambut sebahu digerai angin laut, menutup sebelah matanya.
nak, tadi yang turun siapa? Pacar kamu ya?”, si kakek coba memecah suasana menatap pada Sumiati.
Iya, “ Sumiati menjawab selepasnya,
Kakek itu memandang si nenek dan tersenyum,
Jam telah menunjukkan pukul 4 Petang, berarti sudah setengah jam Sumiati menghabiskan waktunya dengan berbagai piuh perasaannya di dermaga itu. Dalam hatinya dia ingin beranjak pulang. Tetapi betapa berat rasa langkah kakinya menuju rumahnya yang hanya berjarak kurang 1 km. Memang, disini tidak ada transportasi selain motor yang menyusuri jalan setapak hutan bakau, masyarakat sudah terbiasa menggunakan sampan atau kendaraan air lainnya, selain motor. Sumiati biasa berjalan kaki disela rimbunan bakau dan tanah lumpur dan pasir. Terlebih diwaktu pasang.
Dengan menyapa dan tersenyum pasangan kakek nenek tadi Sumiati beranjak pergi dengan langkah gontai, seakan dunia ini begitu berat membebaninya, padahal dia hanya melepas kepergian kekasihnya untuk mencari kehidupan baru di Malaysia. Tetapi seakan dia kehilangan segalanya, yang seharusnya dia lepas dengan doa dan ikhlas. Hatinya begitu kecut bila harus berpisah untuk waktu yang belum biasa dia bayangkan.
Izam, seorang lelaki asli anak pulau yang mengecap pendidikan seadanya, belajarnya lebih banyak ditengah lautan, bercanda badai dan memunguti kerontang matahari. Tidak heran kulitnya sawo matang sekali. Tetapi Izam adalah lelaki yang baik, kuat, semangat dan selalu berjuang untuk keluarganya.
Suami dan Izam sebenarnya bertetangga, tetapi mereka berasall dari daerah yang berbeda. Izam adalah lelaki asli anak Melayu Riau, sedangkan Sumiati keluarganya dari zaman dulu sudah berada di Kepualauan ini yang bersuku Banjar. Tidak tahu awal mulanya, disini banyak keturuan Banjar juga. Ah, sudah lah kita tidak mempersoalkan suku, suku bangsa adalah kekayaan bangsa yang tak ternilai harganya.
Sumiati dari keluarga yang hampir sama dengan Izam, hidup sederhana dari bapa ibu nya yang memiliki usaha kayu Bakau, sementara Izam semua keluarganya adalah nelayan dan buruh angkut Dermaga.
Sampai di rumah Sumiati tidak bertemua siapapun, orang-orang masih dilokasi pengambilan kayu bakau, ayah dan ibunya serta adik kecilnya yang berusia 5 tahun yang selalu di bawa orangtuanya bekerja. Sumiati langsung masuk kamar dan menghempaskan segala rasa dan letih belulangnya di kasur. Telentang dan angannya kembali membawa kenangan-kenangan bersama Izam. Makan di menara, memancing di muara sungai dan mengambil kelapa muda. Di tempatnya banyak sekali pohon kelapa yang merupakan sumber penghidupan masyarakat pesisir pulau, kelapa tumbuh baik dan buah kelapa biasanya di kirim keluar pulau dengan kapal.
Sumiati masih rebahan telentang, di pagut guling di dadanya dengan erat dan berusaha memecamkan matanya, dia berniat ingin istirahat dan tidur sejenak menjelang magrib, ayah ibunya biasa sudah sampai di rumah. Tetapi matanya ngak bisa terpejam jua.
Tiba-tiba Sumiati dikejutkan suara pertir yang amat kencang, di iringi gemuruh yang bergulung. Suamiati terkejut dan spntan mengintip kejendela kamarya, dia lihat awan di langit hitam bergumpalan amat tebal, ada percikan-percikat kilat dia antara awan itu. Sumiati kecut, dia sudah tahu akan datang badai, biasanya memang setiap akhir tahun menjelang Desember laut disini sering badai.
ya, Allah...” Suamiatai bergumam dan berdoa’a, “ Selamatkanlah Abangku Izam dalam pelayarannya” “ Lindungilah dia , Ya Allah” suamiati terbata membaca doa, betapa ingatannya sepenuhnya kepad Izam yang baru saja berlayar. Dia paham sekali kondisi laut di daerahnya menuju Malaysia.
Hujan seakan tidak bisa ditunda lagi, langit bagai runtuh menyiram bumi, bunyinya di atap rumah sangat deras, selokan dan tanaman sudah kebaanjiran di luar. Sumiati mengamati dengan perasaan yang sangat takut dari kamarnya. Sepintas dia melihat bapak-bapak berlarian dengan penutup kepala dari plastik. Ternyata bapaak-bapak dari dermaga ikan, mereka pulang ke rumah karena badai takut laut pasang.
Hujan kian deras, petir masih menyambar, Sumiati membayangkan betapa keadaan di perjalanan bang Izam, dengan perahu kayu ( ferry ) yang mengarungi laut lepas pada saat seperti ini. Sumiati kembali kecut, mukanya pucat tangannya gemetar.
Akhirnya Sumiati berbaring lagi dan melepaskan doa dan tangisnya, memohon kepada tuhan keselamatan Izam, dia tersedu.
Sum, Sum” suara ibunya memangggil-manggil dari luar kamar, jam sudah pukul 6 lewat, sudah azan magrib. Ibunya dari tadi mengetuk pintu tiada jawaban dan memanggil Sumiati agak keras berpacu dengan suara hujan yang masih turun.
Iyaaaa” Sumiati terkejut dan menjawab. Ternyata Sumiati tertidur setelah melepas semua tangisnya.
Sumiati bangkit dan keluar kamar, terus mengambil wudu dan shalat tanpa sebelumnya berkata apa-apa pada ibunya.
Sudah ada makanan gaaak “ suara bapanya terdengar dari depan rumah sambil membereskan air merembes di pintu depan rumah.
ya, sebentar” ibu Sumiati bergegas mengambil makanan dan diiringi adiknya membawa peralatan makan. Sumiati masih duduk di sudut ruangan memperhatikan Ibu dan adiknya.
ayo Sum, “ Ibunya mengajak makan,
Iya Bu “ Sumiati menjawab sendu.
Kenapa kamu ?” timpal ayahnya
gak apa-apa, Pak, saya hanya cemas bang Izam tadi melaut, berangkat ke Malaysia”
Kapan turunnya” kata ayahnya,
Pukul 4 sore dari Dermaga KM 1, pak, naik Ferry “rembulan”.
oh, berangkat sore tadi? Ibunya menyela
iya, bu, kayaknya bang Izam kena badai gak”
Mudah-mudahan gak kenapa-kenapa,” kata bapaknya
adiknya dari tadi diam berciloteh , “ Jangan-jangan ferrynya kena badai, kak. “Kan badainya besar sekali”
Ayah dan ibunya saling berpandangan, dengan perasaaan masing-masing. Mereka tahu anaknya Sumiati dan Izam saling menyayangi dan sudah mereka restui. Izam pun sudah seperti keluarga di keluarga Sumiati, begitu juga sebaliknya.
Selesai makan tidak ada lagi pembicaraan, ayah ibunya nonton Televisi, sedangkan adiknya sudah tidur. Sumiati masih menerawang di kamarnya sendirian.
Assalamualakum, Pak Awaaaang, Pak Awaang,” suara panggilan dari luar sangat keras. Malam itu sudah pukul 12.30.
Pak Awang nama bapak Sumiati selain pengusaha kayu bakau juga sebagai Kepala Desa. Suara itu dikejutkan oleh penjaga dermaga.
Pak Kades, lapor ada Feery yang terhantam badai, ferrynya terbakar tadi ada laporan dari pulau seberang” penjaga dermaga melaporkan .
Innalilah”
Ya Pak Kades, belum tahu bagaimana kondisi pastinya, untuk itu mohon pak Kades radio dulu ke dermaga seberang”
Bapak Sumiati bergegas mengambil jas hujan dan perlatan lainnya, dan keluar rumah bersama penjaga dermaga menuju kantor kepala Desa. Di sana sudah banyak bapak-bapak juga.
Sumiati terkejut dan keluar kamar, ibunya masih berdiri sambil menutup pintu depan.
buuu, ada apa kok ribut”
iya ada laporan ke Bapak, Fery kena badai”
Sumiati hampir pingsan, tubuhnya bergetar, tulangnya melunglai, matanya berkaca-kaca, dan terhenyak di lantai.
Sum, sum,,, serahkan kepada yang mahakuasa, ya nak. Takdir manusia sudah ditentukan Allah” ibunya menguatkan dan membimbing Sumiati ke kamar. Sumiati kelu, bibirnya bergetar, tapi tak sepatah katapun keluar dari bibir keringnya.
**
ayolah, nak, “suara lembut ibunya dikuping Sumiati yang masih duduk di gundukan tanah pusara Izam, wajahnya dingin.
Ayolah kita pulang, sayang” ibunya memeluknya dengan penuh rasa kasih sayang dan masuk menyelami perasaan Sumiati.
Di pusara ini hanya tinggal mereka berdua, tetapi dari jarak beberapa meter masih ada keluarga Izam yang sangat terpukul akan kehilangan anak mereka, dari jauh juga masih ada bapak Sumiati mengamati dan menunggu mereka pulang bersama.
Sumiati taak bergeming, dan meremas tanah merah itu pas di bagian kepala pusara Izam.
Ibunya membiarkan, sumiati berkata-kata tidak jelas, karena suaranya parau. Dia berkata sesuatu kepada Izam.
Abang, seperti janjimu kepadaku, saat betapa kita meragkai akar bakau menjadi tali cinta.
engkau taruh tali itu diburitan sampanmu,
katamu, selagi sampan masih ada dilaut, engkau tak akan surut
Cinta kita akan tertaut, tak terpisah laut”
dengan genangan airmata:
abangku, tuhan sangat menyayangimu, dan laut di mana kita dibesarkan bersama juga mencintaimu, dia mempersuntingmu bang” demi cintaku kepadamu, aku relakan seikhlasku, melepas dirimu dengan cinta yang takkan pernah putus”
kemudian Sumiati menebar kembang dan airmatanya,

Hutan Bakau,





Comments

Popular posts from this blog

APSARA

Diary Seorang Janda

Sajak Kemarau