Sebait Senja


Senja mengguyur remang cahaya, kemerahan membatas pandang jauh kelembah. Bukankah  dari sini mula terjadi. Dari matahari yang diasuh rembulan. Lahir dari rahim alam ciptaan Tuhan.

Katamu, senja ini tiada seperti senja biasa, biasnya keperakan di dedaunan itu. Tiada akan lama daunan akan menguning dan jatuh. Dimana disembunyikan derak-derak langkah yang tertindih, jika keperihan hidup tiada redup. Engkau menjangkau terlalu pucuk.
Dan dikakimu, rebah ilalang dalam pangku duka, yang tiada pernah menghukum dirinya. Sajak-sajaklah tanda ketiadaan. Pada bait-bait cangkir kopi hitammu, selayak senja

Comments

Popular posts from this blog

APSARA

Diary Seorang Janda

Sajak Kemarau