Posts

Showing posts from January, 2017

Negeri Aroma Teh (Bagian-2)

*** Pucuk teh di pagi lembab keperakan dicium mentari perlahan di ufuk, sementara burung terjaga dalam nyanyian penyambutan, melayang kian kemari. Hinggap di pohon tua yang menjadi saksi betapa lama kenangan menggenang. Daunnya letih kusam telah rontok satu persatu, hingga kematangan masa membuatnya tegar dalam kesunyian.. seperti engkau terpaku memandang setengah Gunung Kerinci di pagi ini, ** Sehamparan kebun teh pagi, menunggu para pemetik bermantel, kerudung dan topinyapun putih transparan seperti kenangan yang tembus pandang. Bukankah kepadamu segala tumpah, resah rebah dan segenang air mata yang tak pernah mampu tersembunyikan adinda. Airmatamu yang melapangkan segala gejolak itu, airmatamu sebening bulir terakhir embun sebelum matahari menyapunya. Betapa engkau tak sekedar menyuguhkan se cangkir kopi dalam raut wajah-wajah ketulusan, lalu untuk apa lagi aku mempertanyakan kasih dan cinta. ** Oh, nyanyian sendu tak perlu lagi mendengung pada langit kemerahan bila senja datan...

Nyanyian Karang

Nyanyian Karang (bagian-1) Duka menjelma dari riak isu langit,  kelam sesaat bara jiwa beronta melonjak menaikkan gelora api darah.  Menganga luka-luka dari terpa kata. ke ujungnya kesabaran tumbang. Angin siang meniup terali usang berabad rasa tergenggam. Adakah se cuil iman dinginkan api dalam peluh matahari jika lampu-lampu terbengkalai kala malam menusuk kesendirian. Lesap... ** Terbang angan menghilang lengang,  daun berguguran rasa menusuk sembilu jiwa, kala itu hanya rasa yang tak berasa.  Menghambar sepotong bala-bala terkunyah kepahitan terhimpit mimpi. Di sudutnya ada sisa waktu menunggu sebelum cerita tamat. ** Lalu,  engkau intip cahaya bulan siluet gadis berambut panjang terurai,  sepadan nyanyian nyiur di balik bulan. Terseok langkah di butir pasir pantai di sana masih terpaut perahu sunyi,  tak kah berlayar lagi karena pagi terlalu dekat memeluk senja, ** Dan. Seonggok puisi menjadi sunyi sajak tertapak karang di bawahnya terkubur...

PETANG

Hei... Petang menjelang adinda, Keperakan awan mencumbui matahari Kadang panas,  senantiasa ada hembusan angin kota Aroma hiruk kepenatan jiwa, Dari mulut gang.. Keujung lelah Berhenti kata pada tenda-tenda, Penghentian kah itu... ? ** Adinda,  petang itu dia ! Menjelma dirambutmu yang kau gerai Puluhan tahun dulu, Berbalut pada kerudung masa yang tak Bisa disembunyikan dari kata, Kata pemanggilmu... ** Petang itu sejengkal, sempat atau tidak Berteduh dibawah langit menjemput senja Hingga gelisah kegulitaan menjadi tiada, Tiada,  hening pusara menghapar lelah, Sebelum perhitingan dosa. ** dan... Ladang menguning,  merangas Kau rindukan hujan dari sesak ini, tidak.. Mungkin gelora matahari berlipat, Memeluk dasyat.......

Langit Malam

Langit malam sisa Desember, Cahaya redup, jalanan tak pernah sepi Lalu lalang kehidupan, Punguti sisa matahari mimpi yg sunyi Di bawah tatakan cangkir kopi Leleh puisi terentang setahun juang, Dari lembah dan tebing meniti curam Bebatuan itu menyandung langkah, Setelah rebah... Dingin bumi alirnya di nadi.. Membangun lagi serambi mimpi Kala kecipak terkuak.... Alunan nada Dari bisik jiwa.... Membawa cawan retak itu kelangit Menuruti rasi bintang... Hingga lengang terbuang kau tanam dari belantara kata, Terus mengalir..... Karena kau adalah air........ Mengalir serasi jiwa yang tak mati

Batang Marinteh

Batang Marinteh,  Akhir September ‘13 Kuingin berkenalan dengan matahari, berjabat tangan dengan bulan dan menari bersama bintang. Tak kan kubiarkan hitam awan lalu lalang, tak kurelakan angin kencang, tak kuijinkan ada hujan Aku ingin bersahabat dengan elang, bercengkrama dengan  srigala, dan berenang  bersama hiu Kuingin juga berlari dengan Singa, memanjat bagai beruang. Tapi, aku hanya manusia biasa, yang mampu mengikat mimpi membingkai asa, Aku hanya manusia yang bisa tersesat, terhembus bagai butiran debu, terombang di ombak laut Terkapar disisi karang, tersandung diujung batu, tersayat oleh sembilu waktu Tapi aku manusia .............

Gunung Kerinci

Gunung  Kerinci Ke puncak kerinci ini inginku gayutkan mimpi, Dalam lelap berbalut awan putih Terkalang rona waktu hingga terlihat samar Namum kau tetap ada Dilembahnya ingin kubentang resah Agar terbalut lilitan akar rimba dan aroma teh Menghempaskan peluh luka-luka yang terkoyak Tak ber berbatas Kukaitkan bait kata dalam rona tulisan jingga Antara  hampa dan tegar tatapanmu Demi waktu yang menahan lahar

Taman Jiwa

Berhembuslah wahai angin, Jika cahaya jiwaku redup Tiupkan jendela hatiku, Dari jemari luka, Tak ada lagi jerit yang pahit Jika lambaimu pengobat duka ** keringkan yang lama terbenam Dalam syahdu ke ikhlasan Jika jemari enggan menggenggam. Jenguklah  asa menjadi raga Untuk kuat menapak ** Raih aku dalam dekapMu ya Rabbi Segala doa ku tadahkan pada Mu, Bila senja, bangunkan rembulan Agar langitku penuh cahaya, Biarkan ku ikuti jejak hujan, Penghapus airmata ** Kini, jiwaku tumbuh dalam kecambah waktu, untuk bangkit Tak ada kerapuhan luluh Selain sebatang  iman, Daunnya teduh menjadi taman Tempat kubersandar ....

Melerai Rindu

jauh di lubuk kesunyian , Sekeping hati perlahan menua dera angin kesendiriannya.... Terbakar letupan rindu...... Tiada sekejap pun tetes embun, Sempat menuang bening... Sampai matahari bersenandung Tanpa angin..... ** Sorakilah secarik malam.. Di hempas keangkuhan.... Dan, rembulan menjaga jarak Sejengkal mimpi ........ Bintang yang tercuri suluh duka, Tempat ia teduhkan segala lara Biarkan saja redup itu menyatu Melerai semua rindu...... *

Berjalan Sajalah

Lalu... Berjalan sajalah Walau perlahan... Walau ke ujung nyeri,  di atas tumpukan duri Kesabaran... Ketulusan Menumpulkan segala cambuk, Jika di dadamu masih ada gemuruh Di yakinmu berbalut iman.. Lalu,  sejenak basuh lelah Kembalilah ke sajjadah, Tumpukkan semua lelah... Tanpa menyerah..... #Selamatpagijelangsiang

Sajak Lengang

Sajak Lengang" Terus saja di bola matamu, mengendap redup cahaya: yang seharusnya bias rembulan Rembulan telah beranjak....... Langkah-langkah kita, Susuri belantara dalam untai kata yang menyatukan kasih ombak, pesisir pantai... Walau tak pernah kita temui, Selain pohonan dan akar asa, untuk berbagi... ** Di matamu jua sebait sajak hinggap Sebelum senja perihkan pandang, di sisa petang.... Syair-syair tentang di kau dan aku Lahir dari ketiadaan Tumbuh di buih-buih apa adanya, Hingga aku,  selalu kehilangan *****

Pupus

Gerimis itu,  yang mengiris Menyayat dalam lubuk hati, Membangun luka yang diciptakan senja, Kala bait tak kuasa lagi ku kait kata. Luruh digubuk yg terbangun kaki langit Sedianya kutahtakan malam, Dalam kidung cahaya bulan *** Duhai rona malam berdawai renyai Dikelopak anyelir,  kata deras mengalir Berlapis kecubung duka ..... Dimana pusara rasa membenam, Jauh teramat dalam..... Jubah waktu telah mencatat ribuan senja Tanpa cahaya... *** Menyimpan lautan itu, Menggenggam gejolak ombak Ditelapak tangan keikhlasan Membiarkan naluri embun menetes Di ujung daun,  tiada diksi menuai Pupus dilamun badai...... "Bandung,  Januari 2017"

Senja dan Angin

Tanpa aku pun senja. datang, Tak peduli jelaga langit Atau rona Jingga lembayung Aku hanya menunggu angin Menggetar sayap2 asa..... Meresapi nikmat karunia..... ** Senja terhadang, Setelah lelah tumpah... Ilalangku, jangan rebah Nyanyikan malam senandung zaman Sebelum angin mendera haluan ** Ah angin berhembuslah perlahan Ke ubun- ubun, ke akar jiwa Hapuskan debu jalanan Tanggalkan segala noda Telapak kehidupan....... Senja dan angin, Kutitipkan harapan

Senja Bergiwang

Senja bergiwang  rona buram, ujung kota di lamun hujan, Pohonan tak tau wujud  ceria dalam temaram lampu atau, memilukan rasa dingin dalam kedunguan, Tanah yang lembab, bangku yang basah … Di lubuk tatap mencekam jauh ke nurani, Mengintip antara getar-getar senja ini Dimana bulir-bulir semerbak kuncuk untuk kudendang menjadi mekar di pelukanmu, setelah senja ini Malam bersapu rantau cahaya, sedang engkau ranumkan duka Jauh menghening bersama laron-laron, dan Cahaya tiada peduli kepada aku, aku yang menatap dalam Mencari rangkai kata di atas bara yang menjadikan Sunyi bercahaya …. Beri aku pedang kata, beri aku tameng jiwa,,,, Untuk melukiskan senja-senja ini di beranda, Dan membiarkan  dera angin bertiup ke jendelamu Dago 4 Des 16

Nurani

** Seperti langkah Ia terseok selokan dalam lumat Tertahan tanah kuburan... Menyisip aroma akasia.... Rontok mahkota kesunyian.... syair qhodam yang di tinggal telapak surga .... Dia susuri jemari waktu dalam lirih :kepangkuan dosa ..... Seraya matahari membenam bara, Dimana telapak pernah terjejak ** Dalam kuncup itu.... Ada bulir cahaya ..... Kebenaran yg di sisakan nurani, Sebelum bangkai kata melata, Meyusup dada pengembara Menunggu mekar ranum senyum engkau sampirkan dalam embun ***

Sisa Desember

Langit malam sisa Desember, Cahaya redup, jalanan tak pernah sepi Lalu lalang kehidupan, Punguti sisa matahari mimpi yg sunyi Di bawah tatakan cangkir kopi Leleh puisi terentang setahun juang, Dari lembah dan tebing meniti curam Bebatuan itu menyandung langkah, Setelah rebah... Dingin bumi alirnya di nadi.. Membangun lagi serambi mimpi Kala kecipak terkuak.... Alunan nada Dari bisik jiwa.... Membawa cawan retak itu kelangit Menuruti rasi bintang... Hingga lengang terbuang kau tanam dari belantara kata, Terus mengalir..... Karena kau adalah air........ Mengalir serasi jiwa yang tak mati

Duhai

Cahaya bulan patah di serambi Menyusupkan kenang pada bintang, Terlabuh angan di balik awan... Desau daunan dan detak nafas, Helaan ke ujung jalan.... Menghempas landai di gerai.. Angin sepoi pengibas rambutmu bait berabat terbenam malam, Satu persatu berderai... Tahun ke tahun meranum dalam lamun Entah dimana engkau pusarakan rindu, Hingga kusau ombak membalik sampan Matahari redup, tiada kusuakan simpul Barat dan timur.... Duhai kekasih..... Yang kuhitungkan debur di karang, Melatakan akar bakau, tersangkutlah Engkau,  biar kujangkau  dalam igau

Beban

Dan. Perjalanan itu entah panjang, Entah hanya sekejap seperti berkas Rembulan yang singgah Singasana mimpi di kolong langit Maka, bertabur bunga, dan cahaya di senyum bidadari .... Sejenakkah... Rekah rembulan dipangkuan Menyusuri belantara lorong sunyi, Sebelum embun menetes .... Menyatukan segenap asa di jambang doa Dan berkicauan burung-burung lelah, Sebelum rerumputan rebah..... *** Tidak, Punggungmu adalah langit, Pembalut terik, penadah setiap kesah Masih terbias lukisan senja, disana Bergumpal awan bertahta, Seluas cakrawala jiwa menarikan Liukan sukma ..... Bertahan, di atas segala beban .....

Bidadari Senja

Bidadari Senja***** Bila larut itu adinda,  tunjuki aku Untuk membasuh air matamu, Dalam detak impiku padamu, Saat segala duka menikam kita, Menyatukan beban di langit yang sama Engkau teduhku dlm damai bisikmu, Senandung yg meniup ubun jiwaku, Meleburkan sukma di genang airmata, Tulusmu..... ** Kau ajari segenap langkah,  untuk Tak goyah.... Aku tau engkaupun tertatih... Jauh ke dalam lubuk hatimu, Kuselami segenap rindu... Rindu katamu,  rindu senyummu ** Engkau adinda...... Kau bidadari senja Dilangitmu rona jiwaku terukir Kasihmu......

Beritahu, Siapa Aku

** Senja bergiwang  rona buram, ujung kota di lamun hujan, Pohonan tak tau wujud  ceria dalam temaram lampu atau, memilukan rasa dingin dalam kedunguan, Tanah yang lembab, bangku yang basah … Di lubuk tatap mencekam jauh ke nurani, Mengintip antara getar-getar senja ini Dimana bulir-bulir semerbak kuncuk untuk kudendang menjadi mekar di pelukanmu, setelah senja ini Malam bersapu rantau cahaya, sedang engkau ranumkan duka Jauh menghening bersama laron-laron, dan Cahaya tiada peduli kepada aku, aku yang menatap dalam Mencari rangkai kata di atas bara yang menjadikan Sunyi bercahaya …. Beri aku pedang kata, beri aku tameng jiwa,,,, Untuk melukiskan senja-senja ini di beranda, Dan membiarkan  dera angin bertiup ke jendelamu Dago 4 Des 16

Negeri Aroma Teh (bag-1)

Aroma Teh bag-1 Aroma pucuk teh dicumbui tetes embun,  awan masih memutih selayak pandang. D ujung sana adinda,  megah Kerincimu menyimpan bara cinta negeri kaya. Tiada gersang melintang, bunga ribuan rupa dibuai derai air terjun Timbulun. Sesukamu menatap dalam,  lembah hampar hijau memukau. Tebingmu indah mengukir mimpi,  dibawahnya,  mengalir kesucian mendinginkan segala beban. ** Elok negeri berhias emas,  jembatan besi disana sore menanti. Ketika lelah itu tengadah. Tetap buayaiannuansa alam mengajariku bersyukur apa-aoa yang dimakan. Apa-apa yang kuhirup dalam kancah perdamaian, indah lukisan kebun iru adinda,  disinggahku ini menghirup se cangkir kopi. Beratus sajakku tertapak di Lereng Kerinci itu,  dalam anggun suara negeri penuh kedamaian itu. ** Tahukah engkau adinda,  suara jiwaku tak pernah mengapung di nyanyian walet mungil sekalipun,  karena aku bukan apa-apa,  bukan siapa-siapa yang mampu mengurai tiap kata yang...

Melukis Langit

Langit Dipinggangnya se cangkir kopiku, Dan. Sebait sajak Menunggu sepoi dipelataran ini, Bersamamu.... Memandang hampar pucuk teh.. Seraya kata tak banyak teraduk, Mengendap di dasar cangkir kenangan.. ** Berlalu angin ini..... Meniup rajut-rajut senja yang tiada, Dari ketidak sempurnaan.... Membangun mahligai perjuangan, Di mana jiwa dipertaruhkan, ** Lukisan langit itu, Pasti engkau lihat, betapa rautnya Dapat termaknai,  seperti sajak Yang tak kan mati....