Negeri Aroma Teh (Bagian-2)
***
Pucuk teh di pagi lembab keperakan dicium mentari perlahan di ufuk, sementara burung terjaga dalam nyanyian penyambutan, melayang kian kemari. Hinggap di pohon tua yang menjadi saksi betapa lama kenangan menggenang. Daunnya letih kusam telah rontok satu persatu, hingga kematangan masa membuatnya tegar dalam kesunyian.. seperti engkau terpaku memandang setengah Gunung Kerinci di pagi ini,
**
Sehamparan kebun teh pagi, menunggu para pemetik bermantel, kerudung dan topinyapun putih transparan seperti kenangan yang tembus pandang. Bukankah kepadamu segala tumpah, resah rebah dan segenang air mata yang tak pernah mampu tersembunyikan adinda. Airmatamu yang melapangkan segala gejolak itu, airmatamu sebening bulir terakhir embun sebelum matahari menyapunya. Betapa engkau tak sekedar menyuguhkan se cangkir kopi dalam raut wajah-wajah ketulusan, lalu untuk apa lagi aku mempertanyakan kasih dan cinta.
**
Oh, nyanyian sendu tak perlu lagi mendengung pada langit kemerahan bila senja datang menjelang, cahaya termewah di puncak gunung kerinci benderang bercahaya. Ada latar lukisan awan yang sering aku maknai seperti wajahmu yang tersenyum. Padahal aku tahu senyum itu teramat mahal karena kita dilahirkan dari kepingan keperihan. Dan haruskah kesedihan menikah dengan kesunyian tanpamu ?
**
Kini, secarik kertas usang mencatat segala rupa perjalanan. Sementara saja sebelum semua luruh. Tapi tak kan pernah terlupakan adinda, karena telah terselip dalam rongga jiwa untuk selalu mengenang dalam kesunyian.
Comments
Post a Comment