Air Mata Penyair


Sebait sajak melayang bagai anak panah menikam penyair. Hulu kata menjelma anak sungai dari rahim jiwa yang disembunyikan diksi, majas dan rima. Dalam hutan rimba bersendirian menyusun cuaca hati, sedang musim adalah pasti tak pernah dimengerti. Sunyi adalah rumah bagi sepi, syair menghilir mengikuti irama takdir dari kering hati diramu bumbu ketabahan. Begitu angin dan malam menyalami gulita relung, yang ia simpan rapi. Menyelami tiap lekuk kata itu adalah airmata yang dikremasi dengan balutan ampas kopi. Membubungkan asap keletihan, membakar ngilu rasa yang paling hakiki. Seorang penyair telah menyandarkan keteguhannya dalam kata yang diam-diam menikamnya. Karena kesunyian itu hening. Hening menciptakan halaman puisi yang tak harus engkau pahami. Pada bait tersusun sari jiwa yang tersisa untuk hadir di beranda hatimu. Engkau terhanyut dan penyair tenggelam

 

2020

Comments

Popular posts from this blog

APSARA

Diary Seorang Janda

Sajak Kemarau