Cinta
Rizal De Loesie
Cinta
Ketika kata cinta disabdakan, tahukah kau cinta itu
terbuat dari apa.? Terletak di mana dia. Sehingga kita salah memaknai cinta, membangun
perih, hampa dan kekecewaan yang melingkari bawah sadarmu. Menumbuhkan
benih-benih yang bukan lagi memekarkan cinta
Itulah awal kesalahanmu. Engkau menganggap cinta
sebias yang kau ucap, bukan yang kau resap dalam jiwamu.
Mengapa syair Rumi yang paling sufi pun
tak lepas dari kata-kata cinta, atau pun Khahlil Gibran tak
putus-putus membaitkan kata cinta.
Daun kering yang dilepas perlahan dari ranting dengan
penuh cinta, agar tak terhempas pada
bumi yang membesarkannya, kembali kepangkuan tanah kepada semua berasal.
Sepasang burung
menjalin beribu rerumputan menjadikan rumah sebagai cinta, rumah yang
menjaga nafas, menjaga rangkaian kehidupan yang penuh makna.
Cinta adalah air sebagian isi tubuh kita, hingga cinta
selayaknya utuh mengalir, menyejukkan, menghilangkan keringnya jiwa-jiwa dan
kesengsaraan itu. yang sering teramat dangkal.
Cinta yang melahirkan sekuntum mawar merah dari
sebatang perdu, engkau gunakan mengungkapkan rayuan sebuah kata cinta.
Begitulah tuhan menciptakan dan meniupkan ruh kepada
sepenggal tanah dengan cinta-Nya yang tak habis-habis, melengkapimu dengan
kehidupan, rezki, kesehatan dan pasanganmu agar kau hidup penuh cinta. Agar
kita belajar memupuk cinta itu kepada sesama isi semesta raya yang juga
dihadirkan untuk cinta. Cinta itu adalah menghargai, mengikhklaskan dan
bersyukur.
Bila kau menganggap sebuah cinta adalah kebahagiaan
berpasangan, itu juga tidak salah. Pun jika pada kehidupan sementara ini belum
dipertemukan, tuhan telah sediakan bidadari-bidadari dalam syurga-Nya untukmu, tidak
hanya satu tetapi berpuluh bidadari.
Pun para perempuan yang taat pada suaminya, taat pada
Allah dengan menjalankan perintah-Nya
dengan penuh cinta, ikhlas dan selalu bersyukur. Maka janji Allah diposisikan
ditempat paling mulia.
Jika dalam kehidupan sementara ini senantiasa engkau
memupuk cinta pada-Nya, berbuat kebaikan yang disukai-Nya, beramal dan
senantiasa mencurahkan kasih sayang. Karena kehidupan ini sementara untuk
kehidupan yang sesungguhnya.
Saat kita menanam semua kebaikan penuh cinta, untuk
nanti kita tuai di kehidupan yang sesungguhnya itu.
Tetapi, kita telah terlalu sering mengabaikan cinta-Nya,
cinta yang diberi sebesar-besarnya, kita telah menganggap cinta sebatas rasa
yang dibumbui ego manusia.
Maka pupuklah rasa cinta itu dalam ruh, dalam jiwa
untuk memandang semesta raya ini penuh kelembutan cinta, kasih sayang
Cinta itu adalah Dia, pemilik alam semesta yang ada
pada diri setiap makhluk-Nya. Lalu apakah yang kau banggakan? Memandang
kemiskinan, memandang keburukan, memandang kelemahan? Tahukah kau itu adalah
rasa dari segala Cinta-Nya. Dan perwujudan yang diciptakan adalah Cinta yang
tak kan pernah sampai engkau pahami.
Kita hanyalah ketiadaan tanpa cinta-Nya
Maka kembalilah dalam kecintaan untuk mencintai
semesta yang diciptakan-Nya.
Bandung, 2020

Wonderful words..
ReplyDelete