Menghijrahkan Perasaan


Rizal De Loesie

Refleksi kehidupan setelah semua terpaan angin dan badai menjadikan puing-puing dalam kesunyian paling sunyi

Aku Tia, Kisah ini secuil hidup yang kucecap dari kemanisan yang sempat kureguk di awal kehidupan berumah tangga.sampai semuanya bermula dari awal lagi”


Rumah besar ini begitu mewah, terdiri dari dua lantai dengan desain gaya eropa. Halaman yang luas dengan parkiran mampu memuat 4 mobil sekelas Alphard. Keluarga yang kaya, sepasang suami istri dengan dua anak yang sudah remaja. Suami istri yang benar sepadan menurutku, terlalu sibuk mengurus bisnis mereka sebagai supplier konveksi sehingga sangat sedikit waktu untuk mengurus orang tua mereka yang sudah renta. Orang tua yang merupakan bapak dari bu Nisa istri pak Ronal yang sejak awal pernikahan mereka tinggal bersama. Begitu profil keluarga yang akan kutempati sebagai perawat lansia. Hari ini pertama kehadiranku di rumah ini yang dikirim oleh perusahaan penyalurku. Pada awalnya aku agak keberatan untuk merawat bapak-bapak karena masih ada trauma pada kejadian kontrak kerjaku sebelumnya yang merawat bapak-bapak yang sikapnya sangat kasar. Tetapi tuntutan kehidupan yang begitu berat tidak banyak pilihan bagiku kecuali memikirkan bagaimana aku menghidupi dua anakku yang masih sekolah di kampung, aku harus berjuang sendirian di Jakarta ini demi mereka berdua.
Hanya mengingat mereka berdua buah hatiku yang telah ditinggal bapaknya menghadap sang Mahakuasa menjadi gumpalan-gumpalan semangatku dengan tidak menghiraukan betapa terkadang rasa lelah, rasa sakit yang kusembunyikan diam-diam. Hanya senyum dan canda yang kuperlihatkan di balik semua deraan dan perjuangan yang kulakukan demi mereka bisa sekolah. Berbangga dengan mereka atas karunia Allah mereka tumbuh menjadi sepasang remaja yang cantik dan gagah. Anakku yang perempuan masih sempat kerja part time di tempat klinik dokter gigi praktik setelah pulang sekolah. Walau aku tidak setuju, ingin mereka fokus belajar, tetapi betapa bangganya aku, anakku memiliki hati dan jiwa yang luas ingin meringankan beban mamanya, aku sangat tahu itu. Tetapi mereka jalani dengan bahagia. Walau di kampung masih tinggal bersama neneknya namun mereka sangat mandiri.
***
Setelah menerima penjelasan apa yang harus aku kerjakan, dan sesuai pula dengan SOP yang ditetapkan kantorku, aku mulai hari ini tinggal di rumah besar ini sebagai perawat Pak Toni yang sudah lansia dan juga sakit-sakitan. Kamarku sudah disediakan cukup luas dengan fasilitas sangat memadai.
Setelah memperkenalkan diri dan berbasa-basi aku di suruh istirahat dulu sebelum besok pagi mulai bekerja.
***
Ada perasaan haru, ada kesedihan melintas dalam anganku pertama merebahkan diri di kamar ini. Aku pernah memiliki rumah, pernah mereguk kebahagiaan bersama orang yang sangat kucintai. Entah mengapa semua bayangan masa lalu melintas begitu padat menyesak pikiranku. Mungkin cat kamar ini persis sama dengan cat kamarku dahulu, berwarna pink. Aku larut dalam bayangan masa lalu. Kerinduan yang sangat kepada laki-laki satu-satunya yang kucintai.
Ingatan itu begitu dekat, semua bayangan dipelupuk mata. Kebahagiaan dulu sampai kepada keterpurukanku hingga saat ini aku kembali bangkit, mencoba menata hati, menata diri dari awal dengan segala keterbatasan.

Aku menikah didasari saling mencintai dengan seorang laki-laki yang memiliki usaha sebuah toko. Kami selalu bersama di toko melayani pembeli, dan rasanya sangat bahagia. Pelan-pelan kehidupan berjalan lebih baik, usaha yang cukup maju hingga satu persatu kami bisa membeli barang-barang, bisa memenuhi kebutuhan keluarga dan kasih sayang kepada anak-anak. Hidup rasanya begitu indah dengan dasar rasa cinta. Suamiku sangat menyayangiku, itu sudah segalanya bagiku dibandingkan dengan harta yang kami peroleh dari usaha. Merenovasi rumah yang kami tempati menjadi bangunan permanen dua lantai juga membeli beberapa perabotan. Sudah bisa pula membeli sebuah mobil untuk membawa barang jualan sekaligus mobil keluarga.

Kebahagiaan itu tidak pernah abadi diberi tuhan, kebahagiaan adalah awal dari cobaan. Suami jatuh sakit dan tidak bisa apa-apa, hanya diam dirumah. Sementara aku harus mengurus suami dan mengurus took, anak-anak masih kecil dan tidak ada saudara yang bisa membantu. Perlahan-lahan toko pun mengalami kemerosotan seiring penyakit jantung suami yang kian memburuk. Perhatian lebih banyak focus kepada suami.
Memang ada saudara-saudara dari keluarga suami, tetapi cobaan bagi saya, keluarga suami tidak mau peduli. Iyah, aku dan suami memaklumi hal itu. Karena pernikahan kami dulu tidak direstui oleh keluarga suami. Keluarga suami menginginkan istrinya sama-sama berasal dari daerah yang sama, sedangkan aku berbeda. Aku dilahirkan dan dibesarkan dikota ini, asli di sini. Tetapi suami dan keluarga besarnya adalah pendatang yang cukup berhasil berdagang di kotaku ini.

Hari demi hari kami lalui dengan keterbatasan, kebutuhan berobat suami, belanja kebutuhan harian sementara toko tidak lagi terurus, tetapi di dadaku dan suami masih dalam lautan cinta kasih yang tak retak-retak. Kami jalani kehidupan dengan menggunakan sisa tabungan yang ada, dan menjual beberapa barang. Sehingga semua kebutuhan masih dapat teratasi.
Kehendak yang Mahakuasa tidak dapat dielakkan. Penyakit suami semakin hari semakin parah, bolak balik rawat nginap di rumah sakit, hingga pada akhiarnya awan gelap jatuh padaku, suami meninggal dunia dalam pelukanku di rumah sakit. Kesedihan, patah dan hancur berkeping-keping hati ini. AKu kehilangan yang paling hilang, manusia satu-satunya yang sangat aku cintai dan sayangi ternyata tuhan lebih menyayanginya. Alan gelap itu begitu menghimpit, luka terlalu dalam untuk dijahit. AKu kehilangan arah dan merasa hidupku ini sudah sia-sia, tanpa mimpi dan harapan. Hanya anakku, sepasang jagoanku menjadi penyemangat dari keping-keping asa yang tersisa.
***
Setelah kepergian suami menghadap sang kuasa, dengan sisa semangat aku harus bangkit demi anak-anakku. Ada keperihan dan kesunyian yang terus bersarang, biasanya segala kebutuhan, segala urusan semua sudah disediakan suamiku. Aku sebagai istri benar-benar dimanjakan selama ini. Mulai saat ini aku harus mengurus semuanya. Terlebih lagi saat kondisi ekonomi yang sudah benar-benar terpuruk.

Aku akan mencoba menata lagi toko yang selama ini sudah tidak lagi terurus semenjak suami jatuh sakit. Aku coba menghubungi adik suamiku yang kebetulan juga memiliki toko di sebelah toko suamiku. Sebenarnya toko-toko itu semua adalah warisan mertuaku, sejenis usaha keluarga.

Tetapi tuhan belum berhenti mengujiku dengan keperihan, bukannya saudara-saudara suamiku akan membantu, tetapi ternyata toko sudah diambil alih saudara suami yang lain. Aku memohon agar toko bisa aku urus demi masa depan anak-anak. Tetapi ya tuhan, bukannya mereka akan membantu seperti bayanganku tetapi malah mengambil alih semua yang ada di toko dan menempatinya. Mereka seakan mengukumku dengan kematian suamiku. Dengan Bahasa yang teramat perih bagiku mereka nyatakan semua asset suami balik ke keluarga.
Entahlah, dari apa hati mereka terbuat, yang pasti semua sama pernyataannya. Apalah dayaku seorang janda dua anak yang tidak memiliki penghasilan apa-apa, tidak ada lagi warisan suami yang bisa kami jual, kecuali rumah yang sekarang kami tempati.

Dengan semangat dari serpih-serpih hatiku melihat anak-anak akhirnya aku berjualan buah-buahan di pinggir jalan. Cukuplah buat kami makan sehari-hari dan membiayai sekolah anakku.

Pada suatu malam kakak iparku dating berkunjung, yang biasanya mereka tidak pernah dating kecuali saat suamiku meninggal. Kakak iparku Kak “Saripah” juga berprofesi sama dengan suamiku dulu, usaha toko keluarga dating sendirian ke rumah. Setelah kupersilahkan masuk dan mau menawarkan minuman, spontan dia bilang
gak usah repot-repot Tia, saya hanya sebentar
Kakak dan keluarga sehat-sehatkah”, kataku beramah tamah
Tetapi Kak Sari tidak menjawab tetapi matanya menatap sekeliling ruangan tamu.
Begini, Tia. Saya hanya mau memberitahu kepadamu, bahwa rumah ini akan di jual”
Sontak aku kaget,
Maksud Kakak?
Iya, rumah ini kan bagian dari rumah keluarga tanahnya tanah keluarga, dahulu suamimu hanya meminjam pakai. Jadi karena suamimu sudah tiada rumah ini kembali kepada kami. Begitu adat kami, harta kembali kepada saudara perempuan”
Aku serasa jatuh dari langit di atas batu karang yang tajam, lidahku tercekat. Jantungku seakan berhenti berdetak, bibirku gemetar
Kak Sari melanjutkan vonisnya,
Jadi tentunya kamu dan anak-anak harus keluar dari rumah ini”.

Aku tidak bisa bicara apa-apa sampai Kak Sari keluar rumah tanpa aku tahu apa yang dia bicarakan lagi. Yang kuingat adalah dia mengancam sambil menunjuk-nunjuk kepadaku.

Kedatangan Kak Sari entah kiamat yang keberapa kali aku rasakan. Ya Tuhan, belum cukupkah semua ini Engkau ujikan kepada kami? Anak-anakku rupanya mendengar semua yang dikatakan Kak Sari. Sisulung sangat bijaksana walau usianya baru 13 tahun.
Sudahlah Bu, kita cari kontrakan saja yang murah” anakku berusaha menenangkan diriku.
Tak habis pikir, bukankah anak-anakku merupakan keturunan mereka? Bukankah selama ini saya dan suami juga berusaha berdua. Tidak adakah rasa kemanusian mereka. Begitu tegaskah warisan menurut adat atau prinsip keluarga mereka. Dalam hati aku tidak percaya kalau itu bahasa adat, mungkin itu hanyalah kiinginan mereka saja. Begitu banyak pertanyaan dalam hatiku, begitu tajam duri-duri jalanan yang harus ku tempuh. Tetapi sudahlah, aku memiliki tuhan, aku memiliki kepercayaan suatu waktu kelak pasti ada jalan bagi kami.
***
Sudah dua tahun berlalu sejak meninggalkan rumah cinta kami yang penuh kenangan indah bersama suami. Berjualan buah-buahan tidak lagi mampu membiayai kehidupan kami. Akhirnya mengikuti teman aku merantau ke Jakarta dan mengikuti pelatihan sebagai perawat lansia. Anak-anak kutitip pada ibuku, Alhamdulillah aku bisa membiaya anak-anakku. Sampai saat ini, di rumah ini tempat aku ditugaskan. Tetapi satu hal rahasia terbesarku kepada anak-anakku selama ini sakit pembengkakan jantungku. Aku akan tetap bekerja semampuku demi anak-anakku. Sampai tuhan harus menghentikanku untuk berjuang.

Demi cinta kepada anak-anakku dan berharap mereka suatu saat mengalami kehidupan yang lebih baik.






Comments

Popular posts from this blog

APSARA

Diary Seorang Janda

Sajak Kemarau