DEJA VU

Rizal De Loesie


Penyair itu manusia hina. Banyak dosanya
Salah omongya, juga banyak gayanya
Menyusun kata, menyandar di patung Singa
Atau lagi memetik bunga di Taman Mahkota
Sedang dia, menghirup cangkir kopi
Yang tinggal candu bersama kabut pesta dungu

Sebait syair melukiskan bulan tumbuh di Paris
Mungkin Paris Van Java
lukisan monalisa inspirasi dengan pendar cahaya
dari smartphone retak layarnya
suatu kali, puisi di titimangsa Melaka,
dalam redup cahaya gereja, sejarah panjang
Portugis. Dan gadis-gadis Tionghoa
merupa helai-helai kisah pasar malam

pujanga deja vu dalam kejemuan semu
karena mencari dunianya, yang fana
mungkinkah nyata begitu sakit?
Atau rasa sakit diukir di tugu selamat datang
Selamat datang penderitaan
Selamat pergi kata-kata
Pujangga,
deja vu

2020

Comments

Popular posts from this blog

APSARA

Diary Seorang Janda

Sajak Kemarau