Menyeduh Rindu di Musim Hujan
![]() |
| pixabay |
Rizal De
Loesie
(Sajak seorang kekasih harus terpisah karena tidak direstui karena perbedaan latar belakang ekonomi , ide setelah membaca sebuah cerpen)
Entah kemana
merah sore, jeda romantisme sepenggal hati pemuja
bilik hati
nan berkabut, ditumbuhi ilalang dan savana musim kemarau
Desau angin
memilinkan khabar kerinduan berjalin lengan waktu
Teratur mengatur
jarak, kaki meja masa silam dengan se cangkir kopi
menguapkan asap
ke pucuk awan
*
Sore yang
pucat menunggu derak senja dipelataran,
Pawana senja
mengaburkan ingatan dan pandangan, di jendela hanya
Debu-debu
kehidupan, tak terhapus butirannya
Basah mungkin,
embun dan rebas mengajari dewasa membaca takdir
Sudut ruangan
ini meraung diam-diam getar getirnya
*
Duhai hujan
yang tiba-tiba memeluk tali jiwaku,
Kau lantunkan
lagi suara derasnya kenangan,
Syair-syair
yang telah tergubah berabab lalu
Hujan membacakan
ritma dalam lubuk jiwa
Tetapi,
hujan akan tetap berlalu mengeja pertemuan dan perpisahan
Dalam rangkai
diksi seindah dan sesunyi pelangi
Aku tak
bisa lagi menuliskan apa-apa
*
Mungkin,
hujan berlalu begitu ranum, seakan membasuh ingatan
Tetapi hujan
bukanlah dirimu, yang membasuh kerinduan
Walau sama
membuat getar jiwaku,
Akan kehausan,
akan kedinginan
Lengan hujan
yang basah dalam pelukanku
Bukanlah lenganmu
yang menyandarkan harapan
*
Ah, aku. Terlalu
lemah
Ketika kepergian
dan hilang jejak untuk pulang
Harusnya telah
kukurung semua ingatan tentang mu, kekasih
Tetapi bagaimana
mungkin melupakanmu seperti hujan yang berlalu
selalu menghentikan langkahku untuk berteduh
Di bawah
hangat sinar matamu
Bandung,
2020

Menarik..
ReplyDeleteMenarik..
ReplyDeletetrims ya
ReplyDelete