Mengobati Luka Bathin
Rizal De Loesie
![]() |
| pixabay |
Sudah beberapa kali aku
berniat untuk tidak lagi menulis cerpen atau menggurat kata-kata
usang dan lusuh menjadi rangkaian kata tanpa makna yang kuberi nama
puisi uji-coba. Setiap keinginan kuat berprinsip tidak menulis lagi,
tetap ada halangannya. Adakalanya aku lupa, tahukah kau bagaimana
bisa aku menghapus setiap jejak yang terlah berlalu, sementara jejak
itu sudah jauh dibelakang di sapu ombak. Saban waktu aku benar-benar
terpaku di depan laptop untuk tidak mengetik sepatah kata pun yang
berkaitan dengan sastra. Sambil menghirup kopi hitam, seiring jemari
malam yang menusuk mulai tajam, suara nyanyian dari kejauhan
satwa-satwa malam seakan membunuhku. Mengancamku setidaknya aku harus
membuat satu kalimat saja.
Begitu menyiksa, karena
aku harus mencoba untuk menggurat kata, sementara berjuta
kalimat-kalimat menyesak rongga kepala, ke dada dan memacu jemariku
menghentakkan kata-demi kata pada peluru masa lalu. Peluru yang panas
terlepas, peluru yang pernah nyasar juga kemana-mana. Seperti
persimpangan, antara ingin menulis dan tidak ingin lagi membalik
kumpulan diksi untuk mengganti kata-kata yang teramat logika. Semua
kata harus disamarkan kepulan asap kopi dan huruf basah karena air
mata.
Ini malam ke
Sembilanbelas aku tidak menulis dan membayangkan deretan kata yang
tertidur, berbaring memandang cakrawala dari teras belakang rumah
yang terbuka. Aroma kembang, aroma daun dan aroma kopiku menjadi
bongkahan pragraf yang terlelap pulas.
Seketika aku ingat,
pernah salah satu di profile bukuku yang terbit ku tulis “ Menulis
adalah salah satu cara berdamai dengan hati” hah, berarti saat ini
aku sedang mengalami fase perang dingin dengan hatiku sendiri?
Benarkah begitu? Apakah salah satu cara berdamai dengan hati harus
menulis? Aku berpikir, memang-kah hatiku sedang berkecamuk dengan
senjata-senjata yang bisa melukai, atau bisa saja saat ini sedang
bergelora bagai laut dihempas musim. Terus aku berpikir hubungan
menulis dengan mengobati luka bathin. Tetapi dari sisi lain setelah
kucecap rasa kopi barulah aku menyadari rahasia hatiku itu. Rasa
pahit dan manis itu tergantung dari rasa, rasa pikiran dan energi
kita menanggapi. Memang, luka bathin sulit disembuhkan oleh diagnosa
dokter, tetapi luka bathin diselesaikan dengan hati sendiri.
Kembali lagi dengan
prinsip kemaren yang tidak akan menulis. Adalah dua mata pisau yang
berseberangan dengan hati dan jiwaku. Dengan menulis mungkin beberapa
meneteskan airmata dengan rangkaian cerita yang sangat sedih seakan
itu benar terjadi. Sebagian ada yang teramat kesal karena telah
menghabiskan waktunya dengan kata dan kalimat yang tiada bermakna.
Sebagian juga mungkin marah dan tersinggung karena jalan ceritanya
adalah jalan hidupnya yang dimunculkan dalam tulisan.
Saat
ini kutatap wallpaper laptop ini yang sebentar lagi pasti redup,
seiring ujung malam dengan gerimis tipis yang jatuh dalam pangkuan
rinduku. Tetapi tahukah kau yang sebenarnya akan kutulis itu? Bukan
lagi novel atau cerpen yang bisa di baca siapa saja. Tetapi akan
kutulis semuanya dalam rahasia tanpa untaian kata dan aturan kalimat
dan pragraf. Percayalah setelah pagi besok jika matahari masih ada
berarti telah selesai satu buku tentangmu pada senyumku esok pagi.
Bandung, Pebruari 2020

Comments
Post a Comment