Perempuan Yang Terkurung Kenangan

pixabay
Rizal De Loesie

Setiap senja, iya senja bagaimanapun warna dan rasanya tetap membawa lantun-lantun rindu ke relung jiwa Mutia. Dia sangat mencintai senja. Senja bukan peristiwa biasa yang datang lalu berlalu meninggalkan sari-sari entah cinta entah rindu dan penyesalan sepanjang hidupnya. (Rizal De Loesie)
Hal yang tak pernah bisa diterima logika adalah Cinta. Dan yang tak pernah selesai adalah penyesalan“. (Rizal De Loesie)

**
Kelelahan menjalar diseluruh tubuh Mutia. Masih banyak barang-batrang yang harus ditata. Bahkan beberapa barang bawaan yang baru diturunkan dari truk masih berada di teras rumah. Perjalanan sejauh lebih 100 Km juga membuat rasa lelah, terlebih lagi membayangkan harus menata barang-barang ini semua pada rumah mungil yang memiliki 2 kamar tidur seukuran 3 x 4 meter. Sedangkan ruang tamu membelah sisi rumah selebar 3 meter dan kebelakang terbentur dinding dapur. Hanya tersisa 3 x 6 meter untuk menaruh barang-barang. Halaman belakang hanya 1 meter saja buat Mutia bisa berkreasi dengan tanaman-tanaman kesukaannya. Beruntungnya halaman depan cukup luas bisa memuat parkir mobil dan di sisi jalan depan rumah ada mini market. Salah satu hal yang membuat Mutia memutuskan untuk mengontrak rumah ini selain rumah dan lingkungannya bersih juga dekat dengan pusat perbelanjaan.

Hari ini kepindahan dapat terlaksana setelah semua dokumen kepindahan pekerjaannya juga selesai. Karena mutasi inilah Mutia harus mengontrak rumah. Sebenarnya tidak tepat dikatakan Mutia mutasi pekerjaan, tetapi pastinya Mutia meminta pindah, meninggalkan kota kelahirannya dengan penuh kenangan ke kota ini. Mencoba melipat beberapa catatan hidup yang harus dilupakan, setidaknya ada lembaran – lembaran baru yang bisa menghapus dengan berada di kota ini. Kota yang sejuk dengan perbukitan dan pohonan rindang, berlatar awan. Mutia sangat mencintai alam seperti papanya. Papa Mutia adalah sosok yang sangat dibanggakannya adalah lelaki tegar berhati lembut. Lelaki Keras berjiwa sastra, dengan falsafah Papanya “Sekeras Karang Selembut Embun”. Darah sastra papanya mengalir pada Mutia yang juga menyukai alam, dan syair-syair yang tergurat seirama perasaan dan rasa yang dia lalui.

***
Suasana kantor barunya membuat Mutia sedikit lega, perkenalan dengan teman-teman dengan kehangatan persabatan membuat mereka cepat akrab. Mutia berbahagia selain jarak kantor ke rumah yang bisa ditempuh jalan kaki. Ruang kantor dan posisi pekerjaan yang diberikan pimpinan juga membuat Mutia bisa merasa sangat nyaman. Karena Mutia sudah terbiasa mengerjakan hal-hal yang berhubungan dengan desain. Perusahaan ini juga perusahaan periklanan dan juga melayani pembuatan video klip.

**
Mutia yang memiliki karakter spiritual yang tinggi membuatnya tidak pernah menampakkan seperti apa yang dirasakan dan dialaminya. Mutia tetaplah Mutia yang ceria, ramah dan rendah hati. Beberapa hari di sini Mutia telah memili teman-teman dan cepat akrab. Kelebihan Mutia dibandingkan dengan perempuan lain, Mutia begitu tabah dan selalu bersyukur apapun yang dialami dan diberkahi tuhan, agamalah yang mendasari Mutia tumbuh sebagai perempuan yang sangat piawai membawakan diri. Tidak ada sahabat dan teman yang tahu persis sis lain kehidupan Mutia.
Tetapi siapa yang tahu jauh di lubuk hati Mutia yang paling dalam begitu banyak rangkaian kehidupan yang disembunyikan.

“Apakah sudah kau pikir dan pertimbangkan untuk pindah, Mutia?” Mutia masih ingat pertanyaan Ibunya saat Mutia mengutarakan ingin meninggalkan kota kelahiran untuk mutasi ke Kota ini.
“Sudah, bu”. Bukan berarti Mutia ingin meninggalkan ibu, tetapi ini lebih baik bagi jiwa Mutia.
“Mutia berharap dengan berpindah ini Mutia bisa move on dari apa-apa yang membuat kenangan Mutia sulit dihapus di sini, bu”
Ibu hanya menarik napas, tetapi perempuan itu sangat paham akan anak gadis satu-satunya ini. Mutia tumbuh dengan prinsip dan karakter yang kuat. Mutia tetaplah Mutia kodratnya seorang perempuan.
“Ya, sudah, ibu hanya mendoakan dan merestui semua yang terbaik bagimu, nak”
***
Mutia mengambil keputusan untuk Mutasi adalah untuk pemulihan jiwanya sendiri. Banyak kenangan di kota kelahiran ini, tetapi ada selembar diary yang harus dilepaskanya. Diary yang memuat sarat kisah. Mulai dari pertemuannya dengan Hary. Perjalanan waktu bersama Hary sesama karyawan perusahaan di Kotanya. Awal perkenalan 5 tahun lalu dengan Hary seorang pemuda dari Jakarta yang ditugaskan di Kota Mutia. Dari perkenalan dengan memiliki hoby yang sama, bersama di kantor bersama pula dalam komunitas sastra. Hary juga seorang penyair lepas yang juga pecinta senja. Kesamaan ini menumbuhkan bibit-bibit cinta kasih di antara mereka. Mutia dan Hary sangat sering bersama di luar jam kantor, sehingga bukanlah suatu hal rahasia lagi. Semua teman-teman sudah mengetahui hubungan mereka berpacaran. Kebahagiaan kebersamaan yang sangat dinikmati di saat menunggui senja. Seperti itulah syair-syair Mutia dan Hary saling berbalas. Mereka kelihatan bagai dua penyair yang tak terpisahkan bait.
***
Terkadang ada pertanyaan lirih Mutia tentang Hary selama ini, mengapa Hary tidak pernah membicarakan hubungan mereka, tidak terbersit sedikitpun arah dan tujuan hubungan pacaran mereka kea rah pernikahan. Usia Mutia yang menginjak 25 tahun tentunya sudah sangat matang untuk membicarakan hal itu. Sebagai perempuan untuk mengungkapkan hal tersebut kepada Hary tentu sangat tidak pantas. Jujur dalam jiwa Mutia tiada lagi lelaki lain selain untuk Hary, Hary segala-galanya bagi Mutia. Hary memiliki dan memberikan perhatian dan kasih sayang selama ini kepada Mutia. Itu sudah cukup bagi Mutia untuk menilai Hary.
***
Ada perbedaan Hary setelah kepulangannya ke Jakarta beberapa minggu kemaren. Hary cuti untuk mengunjungi orang tuanya di Jakarta. Sejak saat itu sikap Hary sudah mulai berubah kepada Mutia. Perubahan yang tiba-tiba itu membuat Mutia bertanya-tanya. Tetapi setiap Mutia bermaksud dan mengarahkan pembicaraan tentang sikap Hary, Hary selalu mengelak dan mengalihkan pembicaraan pada hal-hal lain.
Kebingungan membuat Mutia merasa ada sesuatu yang salah, entah pada sikap Mutia yang tidak disukai Hary. Karena ketidak jelasan ini lah membuat Mutia merasa hubungannya dengan Hary ada selebung yang menghalangi.
***
Pada titik jenuh hubungan mereka. Akhirnya suatu kesempatan Hary mengunjungi Mutia dan menjelaskan semua hal yang terjadi. Hary berterus terang bahwa dengan terpaksa dia harus menikahi kakak iparnya, karena abang Hary meninggal dunia dan anak-anaknya masih kecil. Dorongan dan permintaan Ibu nya Hary tidak bisa menolak keinginan Ibu dan saudara-saudaranya yang lain. Hary menyetujui menikahi kakak iparnya.
Keperihan teramat perih dan berita bagai petir menyambar dan meruntuhkan langit di atas kepala Mutia yang saat itu duduk berhadapan Hary. Tetap sebagai perempuan yang didik dengan dasar agama dan adat yang baik, Mutia masih bisa mengendalikan dirinya dengan sewajarnya, walau Hary pun tahu bagaimana perasaan Mutia. Tetapi semua kejadian adalah takdir dari Tuhan.

Sejak saat itu Hary maupun Mutia larut dalam pikiran dan perasaan maisng-masing, tidak lagi saling mengunjungi dan bersama. Bagaimana pun Hary adalah suami orang. Mampukah Mutia secepat itu menghapus impian dan kerinduannya?. Mutia adalah manusia biasa dan perempuan lemah dalam hal perasaan.

Keputusan Mutia untuk pindah merupakan jalan terbaik bagi luka batinnya, luka Hary juga mungkin. Tetapi dalam kesendirian di sini Mutia tetap menikmati senja walau tanpa Hary lagi. Mutia ingin melepaskan segala impiannya, berharap kurungan kenangan dalam alam bawah sadarnya tentang Hary perlahan seiring hembusan angina senja di lereng gunung ini bisa menghapusnya.

TAMAT


Hary menikahi kakak iparnya, karena Abang Hary meninggal dunia. Untuk menyelamatkan anak-anak dan pertimbangan lain, keluarga sepakat untuk menikahkan Hary. Hary seorang anak yang begitu patuh kepada Keluarga menuruti kemauan keluarganya itu. Tanpa sanggup untuk memberi tahu Mutia. Dengan gelagat Hary yang lain menimbulkan pertanyaan Mutia. Akhirnya Hary berterus terang juga.

Mutia tidak sanggup lagi untuk terus bertemu dengan Hary, seakan dinding tempat dia biasa bersandar telah rubuh, ranting biasa dia bertengger dengan nyanyian puisinya telah patah. Mutia tak sanggup dan pindah adalah salah satu cara Mutia untuk bisa menebus luka hatinya, bukan pada Hary tetapi pada keadaan
(Rizal De Loesie)






Comments