Satu Perempuan Untuk Dua Lelaki
![]() |
| pixabay |
Rizal De Loesie
Siska, perempuan 35 tahun yang berprofesi sebagai guru di salah satu sekolah swasta merupakan sosok perempuan energik dan ambius, apalagi setelah rumah
tangganya terasa dingin. Dalam perjalanan karirnya dihadapkan pada hal yang
sulit dihindari karena ada beberapa kepentingan yang sama-sama dibutuhkan dalam
mewujudkan mimpinya. Ada sosok lelaki yang membantunya dalam satu hal yang
mengabitkan hubungannya menjadi hubungan pribadi, dilain pihak ada ada suaminya
tempat bergantung secara ekonomi.
Siska terlibat hubungan segitiga yang sulit diterima
logika.
Siang
ini cuaca masih diguyur hujan deras. Jalanan sebagian besar terendam air.
Begitulah kota, kota yang saling mendesak. Bangunan yang bermunculan tanpa lagi
tata aturan dan memikirkan drainase, masih banyak masyarakat yang belum sadar
menjaga lingkungan sehingga saluran air banyak yang tersumbat sampah. Belum
lagi lapisan tanah yang banyak ditutupi beton sehingga penyerapan air sangat
rendah. Terus saja tiap terjadi banjir para aparat sibuk menangani, tetapi
semua hanya bersifat sementara. Pemerintah seharusnya membuat perencanaan dan
tata kota yang benar-benar baik, sehingga dari waktu ke waktu tidak
menyelesaikan masalah yang sama. Di Areal perumahan seharusnya dengan tata
bangunan dan jalan yang matang tidak akan terjadi banjir, malah dikawasan
perumahan juga menyumbang banjir karena tata bangunan dan drainase yang tidak
dipersiapkan dengan analisis yang benar.
***
Hidup
adalah pilihan, kalimat klasik. Tetapi bagi Siska hidup bukan pilhan tetapi
dipilih. Ekstrem memang tetapi hidup penuh dengan lika-liku yang perlu
disiasati. Ah terlalu logis. Bukankah hidup seharusnya mengalir apa adanya
dengan selalu mengikuti kata hati.
Memang
berbagai argument dan kata klise apabila orang ditanya makna dan tujuan hidup
baginya. Seperti juga dengan kata cinta dan bahagia yang sering dipertanyakan.
Apakah sesungguhnya dengan cinta, kebahagiaan tentunya dalam kehidupan ini.
“Apa
arti cinta menurutmu, Sis?” pertanyaan yang mendasar dari Mutia di sela suara
hujan. saat mereka lagi mengamini dua makok bakso.
Mendengar
pertanyaan tiba-tiba itu Siska berpikir dan mencoba menganalisa maksud Mutia.
Menyindir dirinyakah? Atau Mutia lagi jatuh cinta lagi kesekian kali, setelah
gagal lagi dengan suami ke-duanya.
“Hem, mengapa
pertanyaanmu tentang cinta di saat menahan pedesnya kuah bakso?”
Mutia
berpaling memandang Siska dengan wajah kemerahan bukan karena kaget ditanya
balik, tetapi menahan panas pedesnya kuah bakso.
“Gak,
pingin tahu saja, kemarin aku membaca novel cinta, terobsesi pendapatmu tentang
Cinta”
“Oh…
“Cinta…..”
Siska menarik napas dan menghembuskannya seakan meniup ke mangkuk baksonya.
“Cinta
bagiku sudah mati, karena cinta tidak pernah membuahkan apa-apa, dengan cinta
tidak bisa membeli apa-apa”
Wah
jawaban Siska jauh dari beberapa referensi yang di bacanya.
“Oh,
seperti itu, simpel dan menusuk”
“Itu
kan pendapatku” sambar Siska
Dalam
hati Mutiara menarik kesimpulannya sendiri. Berarti Siska mengartikan cinta
lebih ke hubungan dua manusia biasa, yang dijalin dengan ikatan entah
pernikahan atau hubungan lainnya. Atau kedua Siska benar pernah mengalami
trauma dan tidak lagi mendasari sesuatu dengan alasan cinta. Ah, peduli amat Mutia
membatin. Dia hanya membandingkan sudut pandangnya dengan pendapat Siska.
Artinya arti cinta sangat sulit diterjemahkan, Karena sangat dipengaruhi oleh
karakter dan suasa hati seseorang.
Jauh
dalam-dalam Siska juga merasa pertanyaan Mutia benar-benar membangunkan
imajinasi, kembali membalik beberapa catatan yang lama tidak dibahas lagi.
Siska juga sudah lupa apakah cinta itu masih ada. Tetapi setidaknya ada
lembaran yang kembali muncul setelah pertanyaan sederhana dan sangat mendasar,
menikam ulu hati Siska. Siska telah lama mempensiunkan kata cinta dalam
hidupnya. Walau pernikahannya bukanlah pernikahan yang gagal, buktinya sampai
hari ini dia dan suaminya masih baik-baik saja. Tetapi usia pernikahannya yang
sudah lebih 15 tahun itu masih terasa hambar, makanya defenisi cinta versi Siska
ini sangat ekstrem. Suaminya terlalu sibuk bekerja. Sedangkan Siska sendiri
juga wanita karir yang sangat ambius. Hal ini pemicu hubungannya dengan suami
menghambar. Suami sudah berkali-kali meminta untuk mundur dari dunia kerja dan
di rumah mengurus anak, tetapi Siska dengan temperamen tegas dan kuat pada
pendiriannya tidak mau. Suaminya berkali-kali bilang bahwa seorang istri harus
taat dan mendengarkan suami sesuai ajaran agama. Inilah letak awal keretakan dan
hambarnya hubungan mereka.
Saat
tertentu Siska menyadari kata-kata suaminya itu benar, tetapi ambisinya untuk
mencapai puncak karir sebagai seorang guru yang energik menjadi kepala sekolah
itu tidak bisa dihadang oleh aturan dan nasihat orang lain maupun suaminya
sendiri.
Akhirnya
pernikahan berjalan dari waktu ke waktu dengan prinsip masing-masing tetapi di antara
mereka tidak ada yang ingin berpisah. Aneh.
Seperti
itulah fenomena kehidupan.
**
Suatu
saat Siska berpikir dan merasa sangat berdosa kepada suaminya. Dan berniat akan melayani dan mendengarkan
kata-kata suaminya. Lain kali Siska kembali dengan prinsipnya yang ingin
merdeka. Suaminya juga sudah kurang respek kepadanya, di dalam batin Siska
dipenuhi juga tanda tanya. Apakah suamiku mencari kebahagiaan di tempat lain?
Ah, sudahlah. Terserah padanya yang penting baik-baik saja semua kebutuhanku
dengan anak-anak lebih dari cukup dari suamiku. Asalkan hubunganku dengan Mas
Gino tidak diketahui Mas Toni suamiku yang terlalu sibuk dengan profesi dokter
hewannya. Waktunya banyak berurusan dengan binatang peliharaannya.
“Mas
Gino orangnya baik, selalu mendengarkan curhatanku. Terlebih sebagai pejabat di
Dinas Pendidikan Mas Gino memiliki kekuasaan untuk menaikkan karirku. Akan
selalu membela kalau aku mendapat kesulitan. Terlebih lagi kepala sekolah dan
teman-teman di sekolah tempat ku mengajar semuanya sangat menghargaiku. Seorang
guru energik yang sangat dekat dengan pejabat Dinas Pendidikan. Tetapi belum
pernah aku dengar orang mengatakan hubunganku dengan Mas Gino macam-macam.
Mungkin karena pernikahanku kelihatan dari luar baik-baik saja dan menganggap
Mas Gino teman baikku saja.”
***
“Pertemuanku
biasa dengan Mas Gino sehabis jam kantornya dan aku dengan alasan rapat
koordinasi di kantor dinas. Mas Gino memperlakukan diri seperti seorang istri.
Aku sangat tersanjung, tidak pernah memikirkan perasaan ataupun cinta. Sudahlah,
yang penting Mas Gino bisa menaikkan karirku menjadi Kepala Sekolah. Walaupun
nanti seleksi aku yakin Mas Gino akan membelaku, itu saja. Hari demi hari
berlalu sehingga saat ini aku sudahpun menjadi Kepala Sekolah, di salah satu
SMA favorit di kotaku.
Setidaknya
seminggu sekali Mas Gino menjemputku ke sekolah dan kami keluar daerah. Begitu
hubunganku dengan Mas Gino, tanpa pernah mengatakan kata cinta atau sejenisnya.
Aku juga tidak peduli dengan keluarga dan istrinya Mas Gino. Hubungan mengalir
begitu saja.”
***
“Tetapi
dengan pertanyaan Mutia kemaren itu. Walau kujawab seperti apa adanya tetapi
jawaban itu telah membunuh diriku sendiri. Memunculkan dosa-dosa yang teramat
dalam telah kutoreh. Dosa yang tidak hanya melakukan perzinahan dengan lelaki
lain tetapi yang paling besar adalah mengingkari suamiku yang sebenarnya adalah
seorang suami yang baik. Tetapi demi karir aku jalani sandiwara ini dengan
tidak merasa apa-apa.”
Siska
dalam kebimbangannya sendiri, atas perbuatan dan ambisi sendiri.
Bandung,
2020

Menarik....
ReplyDelete