Saksi Kepergian
![]() |
| pixabay |
Rizal De
Loesie
Malam
melipat bait-bait dalam suara jangkrik, di luar pasti dingin sekali. Hujan
telah puas membasuh kenistaan yang melekat pada pohon, pada pagar-pagar tinggi
rumah. Dan sebagian pada hati yang masih terikat dengki. Karena hati sering
menjadi benih menumbuhkan pertentangan, menyuburkan kebencian, dan patah.
Ruangan ini
tanpa raung, hanya sunyi bergelimpangan di meja, kasur dan menempel di laptop,
menggambarkan sepi itu berwujud kata. Se cangkir kopi juga dihembus angin yang menyamun
di sela jendela, tidak ada lukisan tergantung untuk mengingatmu, tetapi ingatan
purba itu memahat dalam sekeping hati yang kini diciutkan kesunyian.
Gigil bulan
pucat antara kabut masih terdampar di kaca jendela, sengaja terbuka, agar
laron-laron menemukan kebahagiaan dengan bias cahaya kamar. Begitu kebahagian
terkadang semu, dan kesemuan mendatangkan kebahagiaan.
Karena sebagian
besar bahagia adalah angan-angan.
Biarkan detak
jam mengabarkan waktu, waktu tak teraih. Sebab kebenaran itu tidak selalu
datang di awal. Keper gian dan datang
adalah selisih waktu, sementara kita saksi yang tidak memiliki bukti.
Begitulah hidup
selayak layar direntangkan di tengah badai, berusaha mempertahankan perahu
mengapung dengan keseimbangan hati dan jiwa, berusaha mendayung agar sampai ke
tujuan, selebihnya adalah layar merupa takdir.
Di sini, kususun
rangkai kata untuk mendamaikan hati, karena hati harus dijaga hati-hati. Karena
sesungguhnya akulah sebenar saksi ketidak berdayaan. Dan engkau adalah murni
kepergian.*)
Bandung,
2020
*)Diabdikan buat sahabat yang telah kembali
kepangkuan tuhan

😔
ReplyDelete😟
ReplyDelete